Jakarta — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan percepatan transformasi industri mebel nasional menuju era Industri 4.0 melalui penyelenggaraan Indonesia Forestry and Woodworking Machinery Expo (Indowood Expo) 2026. Pameran yang digelar di Grand City Surabaya pada 4-6 Juni 2026 ini menjadi momentum penting bagi pelaku industri furnitur untuk meningkatkan daya saing global.
Staf Ahli Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0 Kemenperin Andi Rizaldi menegaskan bahwa transformasi teknologi menjadi kebutuhan mendesak agar industri furnitur nasional mampu meningkatkan daya saing sekaligus membantu Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap.
Industri Furnitur Nasional Belum Siap Digital
Kemenperin mencatat kesiapan industri furnitur nasional dalam menghadapi transformasi digital masih tergolong rendah. Berdasarkan evaluasi tahunan kesiapan industri menuju Industri 4.0, hingga saat ini belum ada industri furnitur maupun pengolahan kayu yang berhasil mencapai skor kesiapan di atas tiga, yang menjadi standar industri siap bertransformasi ke era digital.
“Dari sekian banyak industri yang kami evaluasi, baru sekitar 100 perusahaan yang memiliki nilai Indonesia Industry 4.0 Readiness Index di atas tiga. Sayangnya untuk industri furnitur dan pengolahan kayu belum ada yang mencapai nilai tersebut,” ujar Andi saat pembukaan Indowood Expo 2026, Kamis, 4 Juni 2026.
Meski demikian, Andi menilai kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pelaku industri mebel untuk mempercepat digitalisasi dan modernisasi proses produksi. Apalagi industri furnitur nasional memiliki potensi besar karena mampu mengekspor sekitar 80 persen dari total produksinya meski tingkat utilisasi industri masih berada di kisaran 60 persen.
2.600 Perusahaan dan 800 Ribu Tenaga Kerja
Data Kemenperin menunjukkan industri furnitur nasional saat ini berjumlah sekitar 2.600 perusahaan dengan mayoritas tergabung dalam Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI). Industri tersebut menyerap lebih dari 800 ribu tenaga kerja dan masih didominasi pelaku usaha yang beroperasi di Pulau Jawa.
“Ini menunjukkan potensinya sangat besar. Dengan digitalisasi dan transformasi teknologi, produktivitas dan kapasitas industri dapat meningkat lebih tinggi lagi,” kata Andi.
Pasar furnitur global pada 2025 mencapai sekitar 700 miliar dolar AS dan diproyeksikan terus tumbuh rata-rata 5 persen hingga 2034. Tren pasar global kini mengarah pada produk furnitur yang lebih fungsional, ergonomis, ramah lingkungan, serta didukung fitur tambahan yang sesuai kebutuhan konsumen modern.
Furnitur Jadi Penopang Ekosistem Hunian Modern
Industri furnitur memegang peranan strategis dalam ekosistem perumahan nasional. Kebutuhan furnitur berkualitas meningkat seiring pertumbuhan program perumahan pemerintah, termasuk Program 3 Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Setiap unit hunian baru membutuhkan furnitur sebagai bagian integral dari ekosistem hunian. Mulai dari kitchen set, lemari, hingga perabotan multifungsi untuk ruang terbatas, permintaan terus melonjak seiring urbanisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat urban.
Kemenperin juga mendorong adopsi teknologi ramah lingkungan dalam produksi furnitur. Konsep green manufacturing dan penggunaan bahan baku daur ulang menjadi fokus utama industri ini untuk menjawab tuntutan pasar global yang semakin sadar lingkungan. Harga material bangunan yang stabil di Juni 2026 menjadi momen tepat bagi pelaku industri untuk berinvestasi dalam modernisasi peralatan produksi.
Dengan potensi ekspor yang mencapai 80 persen dari total produksi, industri furnitur nasional berpeluang besar menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru. Transformasi digital melalui otomatisasi proses produksi, implementasi Internet of Things (IoT), serta pemanfaatan data analytics menjadi kunci keberhasilan industri ini bersaing di pasar global.
Persaingan global industri furnitur semakin ketat, terutama dari China yang saat ini mendominasi pasar dunia. China berhasil menguasai pasar furnitur global dengan strategi produksi massal dan harga kompetitif, sementara Indonesia masih berjuang mengejar ketertinggalan.
Tren furnitur pun terus bergeser mengikuti perkembangan zaman. Beberapa tren furnitur sudah dianggap ketinggalan zaman di 2026, sehingga industri lokal harus terus berinovasi agar produknya tetap relevan di pasar domestik maupun internasional.












