Jakarta — Presiden Prabowo Subianto menapaki langkah diplomatiknya ke Paris untuk ketiga kalinya sepanjang 2026. Kunjungan teranyar ini berlangsung pada Kamis (28/5), disambut langsung oleh Presiden Emmanuel Macron di Istana Elysee dengan pelukan hangat. Kedatangan Prabowo ke Prancis bukan sekadar kunjungan protokoler, melainkan menandai kedalaman hubungan strategis kedua negara yang terus menguat.
Didampingi putra sulungnya, Didit Hediprasetyo, Prabowo menjalani rangkaian pembicaraan bilateral yang menghasilkan sejumlah kesepakatan penting. Kebijakan luar negeri Prabowo memang terus menjadi sorotan, termasuk kebijakannya memasukkan bahasa Prancis ke kurikulum nasional. Sejak awal tahun, ini menjadi pertemuan ketiga antara dua pemimpin tersebut, setelah kunjungan sebelumnya pada 13-14 April lalu.
Solusi Dua Negara Jadi Fokus Utama
Isu Palestina mendominasi agenda pembicaraan kedua pemimpin. Kondisi terkini di Gaza, termasuk perintah Netanyahu yang menguasai 70 persen Gaza, memperkuat urgensi diplomasi ini. Prabowo menegaskan bahwa Indonesia dan Prancis memiliki pandangan sejalan terkait stabilitas Timur Tengah, khususnya dukungan terhadap solusi dua negara sebagai kunci perdamaian kawasan.
“Perdamaian di Timur Tengah merupakan kepentingan bersama kita. Prancis menjadi salah satu pelopor dalam mendorong dukungan terhadap solusi dua negara dan kemerdekaan Palestina,” ujar Prabowo dalam keterangan resminya.
Prabowo juga menegaskan komitmen Indonesia yang tak pernah goyah: “Indonesia tetap berpandangan bahwa tidak akan ada perdamaian di Timur Tengah tanpa solusi dua negara dan keadilan bagi rakyat Palestina.”
Macron membalas dengan apresiasi tulus terhadap peran Indonesia. “Saya ingin benar-benar menyampaikan apresiasi atas peran Anda, persahabatan Anda, dan sikap-sikap berani yang Anda ambil tahun lalu demi mendukung perdamaian di Timur Tengah, termasuk dukungan Anda terhadap pengakuan Palestina,” kata Macron.
Kedua pemimpin juga menegaskan komitmen bersama menjaga kedaulatan dan stabilitas Lebanon, di mana pasukan kedua negara yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) bertugas berdampingan.
Latihan Militer Gabungan Pegasus 2026
Kerja sama pertahanan menjadi agenda krusial lain dalam pertemuan ini. Macron menyoroti kedatangan pesawat tempur Rafale pertama di Indonesia sebagai bukti nyata hubungan strategis yang terus berkembang.
“Kemarin ini ada pesawat tempur Rafale yang pertama yang baru tiba di Indonesia, yang menjadi bukti dari hubungan ini dan diskusi hari ini, ini juga adalah bukti keinginan untuk terus maju di jalur ini,” kata Macron.
Indonesia dan Prancis berencana menggelar latihan militer gabungan dalam misi Pegasus 2026 pada September mendatang. Latihan ini mencakup penguatan kemampuan tempur pesawat, angkatan laut, angkatan darat, maupun latihan gabungan dan pelatihan bersama.
“Kami telah membawa kemitraan pertahanan dan keamanan ini ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Macron dengan nada optimistis.
Kerja Sama Pendidikan dan Ekonomi
Selain isu keamanan, pertemuan ini juga membuka peluang baru di bidang pendidikan. Prancis menyatakan kesiapan menerima lebih banyak siswa Indonesia, memperluas akses pendidikan berkualitas bagi generasi muda Tanah Air.
Kedua negara juga membahas peluang kerja sama ekonomi yang lebih luas, termasuk investasi di sektor energi terbarukan dan teknologi hijau. Prabowo menekankan pentingnya membangun kemitraan yang saling menguntungkan dan berkelanjutan, sejalan dengan paket stimulus ekonomi Rp7,8 triliun yang baru disetujuinya untuk memacu pertumbuhan nasional.
Kunjungan berulang Prabowo ke Prancis dalam tempo singkat mengirimkan sinyal tegas tentang posisi Indonesia di kancah diplomatik global. Dengan menggandeng Prancis sebagai mitra strategis, Indonesia memperkuat posisinya dalam menjaga stabilitas kawasan sekaligus memperluas akses ekonomi dan pendidikan bagi rakyatnya.











