Jakarta — Perusahaan real estate asal Qatar, Al Qilaa International, resmi meluncurkan proyek perumahan senilai US$2,5 miliar atau setara Rp40,5 triliun di Indonesia. Proyek ambisius ini menandai masuknya investor Timur Tengah secara besar-besaran ke sektor properti nasional.
Chairman PT Al Qilaa International, Abdulaziz Al-Thani, mengumumkan rencana pembangunan tahap pertama yang mencakup 50.000 unit apartemen. Target dua tahun menjadi batas waktu penyelesaian fase awal ini.
“Untuk proyek kami, kita ada sekitar 50 ribu unit. Setelah itu, kami akan melakukan fase 2 dengan 50 ribu unit lagi,” ujar Abdulaziz di The Ritz-Carlton, Jakarta.
Target Jutaan Unit Apartemen
Al Qilaa tidak main-main dalam mengekspansi pasar Indonesia. Perusahaan ini merencanakan pembangunan hingga 1 juta unit apartemen tersebar di berbagai kota besar Tanah Air. Skala proyek ini melebihi berbagai program perumahan pemerintah yang ada saat ini.
Denah yang dipamerkan menunjukkan dua tipe utama. Unit satu kamar tidur seluas 25 meter persegi menjadi opsi entry-level, sementara unit tiga kamar tidur dengan luas 61 meter persegi ditujukan bagi keluarga. Setiap menara hunian akan dilengkapi taman dan kolam renang sebagai fasilitas standar.
Harga Belum Dipastikan, Komitmen Sudah Teruji
Abdulaziz belum bersedia membeberkan kisaran harga jual apartemen. Namun, ia memastikan harga tidak akan berlebihan dan berjanji mengungkapkannya dalam satu hingga dua bulan mendatang.
“Keuntungan? Itu bukan prioritas utama saya,” imbuhnya.
Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa Al Qilaa lebih memfokuskan proyek pada aspek sosial ketimbang margin keuntungan semata. Strategi ini bisa menjadi angin segar di tengah harga apartemen yang terus merangkak naik di kota-kota besar.
Lahan Negara Jadi Solusi Tekan Biaya
Ketua Satgas Perumahan Hashim Djojohadikusumo memastikan proyek ini akan memanfaatkan aset pemerintah. Lokasi-lokasi potensial mencakup lahan milik Kereta Api Indonesia, Perumnas, hingga Pertamina.
“Ada lokasi-lokasi beberapa yang dimiliki oleh Kereta Api Indonesia, beberapa yang dimiliki Perumnas, ada juga Pertamina, dan sebagainya. Bukan hanya di DK, tapi di seluruh Indonesia,” ujar Hashim.
Penggunaan lahan negara dinilai kunci untuk menjaga harga tetap terjangkau. Langkah ini sejalan dengan program pemerintah yang menargetkan hunian layak bagi 15 juta keluarga berpenghasilan rendah.
Kolaborasi Strategis dengan BTN dan Kontraktor China
Proyek ini melibatkan beberapa mitra strategis. Bank Tabungan Negara (BTN) menjadi pendukung utama dari sisi pembiayaan, sementara PT China Communications Construction Indonesia bertanggung jawab atas aspek konstruksi. Risjadson Land dan DLS Consultancy Pte. Ltd. juga dilibatkan dalam konsorsium ini.
Kehadiran investor Qatar ini menjadi sinyal positif bagi industri properti nasional. Dengan dukungan pembiayaan syariah dan kontraktor berpengalaman, proyek ini berpotensi menjadi model hunian massal baru yang bisa direplikasi di kota-kota lain.
Masuknya modal asing berskala besar ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pasar properti paling menjanjikan di kawasan Asia Tenggara. Pertanyaannya: mampukah proyek ini menjangkau segmen masyarakat yang benar-benar membutuhkan?














