Today

Dampak Pelemahan Dolar AS Mulai Hantui Pengembang, Sektor Perumahan Rakyat Paling Rentan

Kurniawan S.

Penukaran mata uang rupiah ke dolar AS di money changer Jakarta

Jakarta — Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai menghantui pelaku industri perumahan nasional. Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Joko Suranto memperkirakan dampak negatif kenaikan dolar AS baru akan terasa secara signifikan dalam tiga hingga enam bulan ke depan.

“Yang jelas itu dampak negatif atas kondisi kita. Kalau pada batas tertentu, ya 3 sampai 6 bulan kan mungkin mereka masih bisa nahan. Tapi kalau setelah itu bakal menjadi sesuatu yang agak bahaya kan begitu,” kata Joko, Senin (1/6/2026).

Sektor Perumahan Rakyat Paling Rentan

Joko menjelaskan bahwa industri manufaktur padat karya dengan pinjaman berdenominasi dolar AS atau bahan baku impor menjadi segmen paling terdampak. Tekanan ini berimbas langsung ke rantai pasok industri perumahan, termasuk harga bahan bangunan yang sudah menekan margin pengembang.

Yang menjadi sorotan utama adalah sektor perumahan rakyat dan rumah bersubsidi. Kedua segmen ini memiliki margin tipis dan sangat bergantung pada ketersediaan bahan bangunan lokal. Sebaliknya, segmen hunian mewah dinilai lebih tahan terhadap fluktuasi mata uang karena pembelinya memiliki daya beli yang lebih tinggi.

“Kalau komersil bisa berdampak, kalau yang tidak terdampak itu adalah mereka yang di level atas ya, rumah mewah ya. Yang tidak terdampak itu adalah level paling atas, karena mereka punya pilihan, punya daya dukung tinggi. Sedangkan kelas menengah kan tidak punya pilihan,” terang Joko.

Harga Bahan Bangunan Sudah Merangkak Naik

Ketua Umum Aliansi Pengembang Perumahan Nasional (Appernas) Andriliwan Muhammad mengonfirmasi bahwa kenaikan harga bahan bangunan sudah mulai dirasakan di lapangan. Namun, dampaknya belum terlalu signifikan karena stok material dari pemasok lokal masih mencukupi.

“Oh udah terasa. Sudah terasa kenaikan bahan-bahan bangunan. Tapi itu masih sebagian ya, belum terasa banget lah,” kata Andre.

Andre memperingatkan bahwa jika pemerintah tidak mengantisipasi kenaikan dolar AS dalam tiga bulan ke depan, dampaknya bisa jauh lebih besar. Persediaan bahan bangunan yang saat ini masih tersedia diperkirakan hanya bertahan beberapa bulan sebelum harga baru berlaku. Situasi ini memperkuat tren pelemahan rupiah yang mendorong pengembang beralih strategi.

“Saat ini dampaknya belum signifikan. Karena kenapa? Persediaan bahan-bahan di kami itu masih banyak, apalagi kami akan bangun 1.000 rumah gitu kan. Mungkin ini akan berdampak serius dalam 2-3 bulan akan datang. Kenaikannya bisa lebih tinggi,” jelas Andre.

Program 3 Juta Rumah Tetap Dikejar

Meskipun menghadapi tekanan dari fluktuasi nilai tukar, pelaku industri menegaskan komitmen mereka untuk mendukung program pemerintah membangun tiga juta unit rumah. Adanya skema tenor KPR hingga 40 tahun menjadi salah satu instrumen yang diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), termasuk cicilan yang bisa turun hingga Rp773 ribuan per bulan.

“Tapi bagi kami, dengan kenaikan dolar itu tidak akan mempengaruhi semangat kami untuk mendukung program 3 juta rumah. Apalagi dengan adanya tenor 40 tahun. Kami berupaya untuk memenuhi program pemerintah tersebut,” ujar Andre.

Related Post

Leave a Comment