Jakarta — Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah mulai mengirim sinyal peringatan bagi industri perumahan nasional. Para pengembang memperkirakan dampak penuhnya baru akan terasa dalam tiga hingga enam bulan mendatang, namun tekanan terhadap harga bahan bangunan sudah mulai dirasakan di lapangan.
Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Joko Suranto menegaskan bahwa pelemahan rupiah memberikan dampak negatif yang nyata bagi industri perumahan. Dalam keterangan persnya pada Senin (1/6/2026), ia memperingatkan bahwa kondisi saat ini bisa menjadi “sesuatu yang agak bahaya” jika tidak segera diantisipasi.
“Yang jelas itu dampak negatif atas kondisi kita. Kalau pada batas tertentu, ya 3 sampai 6 bulan kan mungkin mereka masih bisa nahan. Tapi kalau setelah itu bakal menjadi sesuatu yang agak bahaya kan begitu,” kata Joko.
Rumah Subsidi Paling Rentan Terdampak
Segmen perumahan rakyat, termasuk rumah bersubsidi, menjadi yang paling rawan terhadap fluktuasi nilai tukar. Sebelumnya, pelemahan rupiah ke level Rp17.500 sudah mendorong biaya bangun rumah subsidi merangkak naik hingga 15 persen, seperti yang telah diulas dalam analisis dampak Rupiah Rp17.500 terhadap biaya konstruksi. Joko menjelaskan bahwa produsen bahan bangunan yang memiliki pinjaman dalam dolar AS atau mengandalkan bahan baku impor akan menghadapi tekanan biaya yang signifikan.
“Tapi yang jadi problem kan kalau itu termasuk kepada perusahaan manufaktur yang padat karya, yang punya pinjaman dalam dolar AS atau bahan bakunya dari luar negeri. Sehingga itu akan memberikan tekanan,” terangnya.
Sementara itu, segmen perumahan mewah relatif lebih tahan terhadap guncangan ini. Joko menilai bahwa pembeli kelas atas memiliki daya dukung finansial yang lebih kuat sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh kenaikan harga bahan bangunan akibat pelemahan rupiah.
Pengusaha Bahan Bangunan Sudah Merasakan Dampaknya
Ketua Umum Aliansi Pengembang Perumahan Nasional (Appernas) Andriliwan Muhammad mengonfirmasi bahwa tekanan dari kenaikan dolar AS sudah mulai dirasakan oleh kontraktor dan pengusaha material bangunan di lapangan. Tekanan ini berpotensi mengganggu program besar seperti penyaluran KPR subsidi BTN yang telah menjangkau 6 juta penerima. Meskipun dampaknya belum terlalu besar, ketersediaan stok bahan baku menjadi penentu kapan kenaikan harga akan benar-benar terjadi.
“Saat ini dampaknya belum signifikan. Karena kenapa? Persediaan bahan-bahan di kami itu masih banyak, apalagi kami akan bangun 1.000 rumah gitu kan. Mungkin ini akan berdampak serius dalam 2-3 bulan akan datang. Kenaikannya bisa lebih tinggi,” jelas Andre.
Andre menambahkan bahwa kenaikan harga bahan bangunan sudah terjadi meskipun belum merata di seluruh kategori material. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pengembang yang sedang menjalankan proyek-proyek berskala besar.
Semangat Program 3 Juta Rumah Tetap Bergelora
Meski menghadapi tantangan ekonomi yang tidak ringan, Appernas menegaskan komitmennya untuk mendukung program pemerintah membangun 3 juta rumah. Salah satu instrumen yang diandalkan adalah skema tenor KPR 40 tahun yang memperpanjang masa cicilan sehingga beban bulanan pembeli menjadi lebih ringan.
“Tapi bagi kami, dengan kenaikan dolar itu tidak akan mempengaruhi semangat kami untuk mendukung program 3 juta rumah. Apalagi dengan adanya tenor 40 tahun. Kami berupaya untuk memenuhi program pemerintah tersebut,” ujar Andre.
Situasi ini menggarisbawahi pentingnya diversifikasi sumber bahan baku dan pengembangan industri material bangunan lokal yang tidak bergantung pada impor. Bagi calon pembeli rumah, momen ini menjadi pengingat bahwa harga properti di masa depan bisa bergerak lebih cepat dari prediksi semula. Seiring berjalannya waktu, aturan baru SLIK OJK yang mempermudah akses KPR subsidi bisa menjadi penyeimbang jika tekanan harga benar-benar terjadi.














