Jakarta — Harga material bangunan di sejumlah toko retail mulai merangkak naik sejak awal 2026. Kenaikan ini terjadi pada batu-batuan, besi, hingga perkabelan, sementara semen dan cat masih relatif stabil. Situasi ini memaksa pengembang properti meninjau ulang harga rumah subsidi yang sebelumnya sudah ditetapkan.
Batu Bata dan Pasir Paling Terdampak
Pantauan langsung di kawasan toko bangunan Tanah Abang, Jakarta Pusat, menunjukkan tren kenaikan yang tidak merata. Batu bata dijual mulai Rp 600 hingga Rp 800 per buah, sedangkan batako mencapai Rp 3.000 per buah. Harga pasir juga mengalami kenaikan sekitar Rp 20.000 per rit. Kondisi ini menjadi pertimbangan penting bagi siapa yang sedang memilih antara membeli atau membangun rumah.
“Harga bahan bangunan memang beberapa sedang naik, seperti batu-batuan dan pasir. Pasir ada kenaikan Rp 20.000 lah,” ujar Cahya, salah satu pedagang di toko bangunan tersebut.
Kenaikan ini dipicu oleh terganggunya aktivitas tambang di wilayah Bogor yang berdampak langsung pada pasokan di pasaran. Ketika suplai berkurang, harga otomatis melonjak meskipun permintaan belum sepenuhnya pulih pasca-Lebaran.
Material Lain Stabil, Tapi Perkabelan Naik
Semen, kayu, baja, dan cat masih berada di harga yang relatif stabil. Semen dijual mulai Rp 50.000 hingga Rp 80.000 per sak, tergantung merek dan ukuran. Sementara besi dibanderol Rp 30.000 hingga Rp 75.000 per batang.
Namun, perkabelan menjadi pengecualian. Salah satu pedagang bernama Lim mengonfirmasi kenaikan harga pada komponen kelistrikan. “Yang lagi naik harganya di sini ya perkabelan, entah mungkin persiapan lebaran ya mungkin,” kata Lim.
Kondisi ini mencerminkan dinamika pasar material bangunan yang kompleks. Di satu sisi, kenaikan harga batu-batuan dan besi memberikan tekanan pada biaya konstruksi. Di sisi lain, permintaan yang masih lesu menahan kenaikan pada material lain. Data penjualan primer properti yang anjlok 25% menunjukkan perlambatan aktivitas konstruksi.
Pasca-Lebaran Jadi Penentu
Pedagang lain bernama Samin menyebutkan bahwa harga material bangunan di tokonya masih stabil karena permintaan yang cenderung sepi. Ia memperkirakan aktivitas konstruksi akan meningkat setelah musim Lebaran berlalu.
“Belum ada kenaikan, harga bahan bangunan masih stabil, karena memang lagi sepi,” ungkap Samin. “Biasanya habis Lebaran ramai lagi, tapi ya balik lagi, musim hujan masih terjadi apa tidak nanti.”
Situasi ini menjadi catatan penting bagi siapa saja yang berencana membangun atau merenovasi rumah di 2026. Memantau perkembangan harga material secara berkala bisa membantu mengoptimalkan anggaran konstruksi sebelum kenaikan lebih lanjut terjadi. Perubahan NJOP properti juga perlu diperhatikan dalam perencanaan anggaran.










