Jakarta — Harga properti di Eropa melonjak drastis dalam satu dekade terakhir, menciptakan jurang ekonomi baru antara generasi tua dan muda. Kenaikan nilai aset hunian yang tak terkejar gaji membuat jutaan anak muda terpaksa bertahan tinggal bersama orang tua hingga usia 30-an tahun.
Bukan soal malas mencari nafkah. Data menunjukkan hampir seperempat warga Eropa kelahiran 1980-an masih berbagi atap dengan orang tua di usia 30 tahun. Angka ini melonjak 50% lebih tinggi dibanding generasi dua dekade sebelumnya. Fenomena itu kini menggeser definisi ketimpangan: bukan lagi sekadar kaya versus miskin, melainkan tua versus muda.
Harga Hunian Melampaui Kemampuan Beli
Nilai properti di kawasan Eropa naik sekitar 25% dalam sepuluh tahun terakhir setelah disesuaikan inflasi. Biaya sewa turut merangkak naik, bahkan melebihi laju kenaikan upah. Bagi mereka yang sudah memiliki rumah puluhan tahun lalu, kenaikan itu menjadi sumber kekayaan tambahan. Namun bagi generasi baru yang baru memasuki pasar kerja, situasinya justru membelenggu.
Kepemilikan rumah yang dulu menjadi gerbang menuju kemandirian finansial kini berubah menjadi barang mewah. Sebagian anak muda mulai menyerah mengejar rumah sendiri dan melihat warisan sebagai jalur yang lebih realistis untuk memiliki hunian. Di Indonesia, insentif PPN DTP 100% yang berlanjut di 2026 menjadi salah satu upaya menjaga akses kaum muda terhadap hunian.
Sistem Pensiun Menekan Anggaran Kaum Muda
Tekanan ekonomi tidak berhenti di harga rumah. Mayoritas sistem pensiun Eropa dirancang pada era ketika jumlah pekerja jauh melampaui pensiunan. Pada 1960, rasionya mencapai lima pekerja untuk satu pensiunan. Kini angka itu merosot menjadi hanya 2,5 pekerja per satu penerima pensiun.
Konsekuensinya, pekerja muda harus menyiapkan tabungan pensiun pribadi sekaligus terus membiayai sistem yang menopang generasi sebelumnya. Beban ganda itu diperparah dengan biaya perawatan populasi lansia yang terus membengkak. Perkiraan Uni Eropa menunjukkan pengeluaran terkait penuaan penduduk kini menyerap sekitar seperempat Produk Domestik Bruto kawasan tersebut. Di tanah air, BTN telah menyalurkan 6 juta unit KPR subsidi untuk keluarga rentan, menunjukkan upaya pemerintah mencegah ketimpangan serupa.
Politik Juga Diminati Kaum Lansia
Dampak demografi tidak terbatas pada sektor ekonomi. Politik turut berubah mengikuti komposisi populasi. Dalam pemilihan presiden Prancis terakhir, usia median pemilih mencapai 52 tahun. Lansia bukan hanya kelompok terbesar, tetapi juga yang paling konsisten hadir di tempat pemungutan suara.
Tidak mengherankan jika pemerintah lebih mudah mempertahankan anggaran pensiun daripada memangkasnya. Sebaliknya, sektor pendidikan, inovasi, dan investasi jangka panjang sering kali menjadi sasaran penghematan saat anggaran mengetat. Akibatnya, anak muda membayar pajak tinggi untuk sistem yang lebih banyak menguntungkan generasi lama.
Pelajaran untuk Pasar Properti Indonesia
Krisis generasi di Eropa menawarkan pelajaran penting bagi pasar properti Indonesia. Program-program seperti insentif PPN DTP, subsidi KPR, dan pembangunan hunian terjangkau menjadi langkah krusial agar generasi muda Tanah Air tidak mengalami nasib serupa. Regulasi broker properti bersertifikat juga menjadi langkah penting untuk melindungi konsumen dari praktik merugikan.
Jika harga hunian terus naik tanpa diimbangi kebijakan yang pro kaum muda, Indonesia berpotensi menghadapi permasalahan sosial yang sama: jurang kekayaan antar generasi yang semakin melebar.