Jakarta — Pasar properti komersial Balikpapan mulai menunjukkan tanda pemulihan nyata di kuartal I/2026. Meski masih terkontraksi, laju penurunan harga justru melambat secara signifikan, mengindikasikan bahwa tekanan di sektor ini mulai mereda.
Bank Indonesia (BI) Perwakilan Balikpapan mencatat Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) kota tersebut berada di level 105,70 pada kuartal I/2026. Angka ini menunjukkan penurunan hanya 0,10% secara year-on-year (yoy), jauh lebih ringan dibandingkan kontraksi 0,36% yoy pada kuartal IV/2025. Pemulihan ini menjadi sinyal positif di tengah kondisi pasar properti nasional yang masih lesu.
Kilang Pertamina dan IKN Jadi Pendorong Utama
Kepala Perwakilan BI Balikpapan Robi Ariadi menjelaskan bahwa perbaikan ini tak lepas dari beberapa faktor strategis yang bermain bersamaan.
“Penurunan IHPK yang lebih melandai tersebut sejalan dengan tetap kuatnya aktivitas dan mobilitas pekerja di Balikpapan seiring Kilang Pertamina Balikpapan yang memasuki kegiatan operasionalisasi, aktivitas pembangunan tahap II IKN yang terus berlanjut, serta berbagai aktivitas kegiatan MICE dan kedinasan,” ujar Robi dalam keterangan resmi, Sabtu (30/5/2026).
Dua proyek raksasa ini menjadi magnet ekonomi baru bagi Balikpapan. Kilang Pertamina yang mulai beroperasi menarik ribuan pekerja ke kota tersebut, sementara percepatan pembangunan tahap II Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam Paser Utara semakin menggeliatkan aktivitas ekonomi di kawasan sekitarnya. Kenaikan suku bunga BI sebesar 5,25% sebelumnya sempat menekan sektor properti dan konstruksi, namun kini tekanan tersebut mulai mereda di Balikpapan.
Segmen Perhotelan Paling Bersinar
Segmen perhotelan menjadi penopang utama perbaikan pasar properti komersial pada awal tahun ini. Harga properti perhotelan tercatat turun 3,63% yoy pada kuartal I/2026, membaik tajam dibandingkan penurunan 9,95% yoy pada kuartal sebelumnya.
Meningkatnya kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) dan kedinasan di Balikpapan menjadi katalis bagi permintaan kamar hotel yang lebih tinggi. Sementara itu, segmen ritel dan perkantoran relatif stabil di tengah permintaan yang mulai meningkat.
Bank Indonesia juga mencatat momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) sepanjang kuartal I/2026 turut memengaruhi pergerakan harga, baik pada segmen properti komersial maupun residensial primer.
Proyek Hilirisasi Industri Jadi Katalis Jangka Panjang
Ke depan, Robi menilai prospek pasar properti Balikpapan masih positif. Sejumlah proyek hilirisasi industri yang mulai memasuki tahap persiapan operasional diperkirakan akan mendorong permintaan properti komersial maupun hunian di kota minyak ini.
Dari sisi pembiayaan, BI terus mendorong penyaluran kredit ke sektor properti melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Kebijakan tersebut ditujukan untuk memperluas akses pembiayaan ke sektor prioritas, termasuk perumahan, guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan pemulihan sektor properti.
Balikpapan yang berlokasi strategis sebagai gerbang menuju IKN tampaknya sedang menulis babak baru dalam peta properti Indonesia. Dengan konvergensi proyek kilang, IKN, dan hilirisasi industri, kota ini berpotensi menjadi salah satu sentra pertumbuhan properti terpanas di luar Jawa dalam beberapa tahun ke depan. Perkembangan ini sejalan dengan tren biaya konstruksi yang melonjak di tengah fluktuasi rupiah, yang membuat kota-kota dengan potensi ekonomi kuat seperti Balikpapan semakin diminati pengembang.











