Jakarta — Membeli rumah impian kini bukan lagi sekadar soal menabung dan mencicil. Sebuah survei internasional terbaru mengungkap fakta yang bikin trenyuh: satu dari enam calon pembeli rumah di Amerika Serikat memilih menyerah total karena harga hunian yang tak lagi masuk akal. Kabarnya, tren serupa mulai menjangkiti generasi muda Indonesia.
Survei Bankrate Ungkap 22 Persen Milenial Menyerah Beli Rumah
Survei Home Affordability Survey 2025 yang dilakukan Bankrate menemukan data mencengangkan. Sebanyak 16 persen calon pembeli rumah di AS tidak menemukan properti yang mampu mereka beli selama periode 2020 hingga 2025. Mereka memutuskan berhenti mencari dan menutup rapat mimpi memiliki hunian sendiri. Banyak yang beralih ke strategi menabung alternatif atau mempertimbangkan opsi membangun rumah sendiri.
Proporsi terbesar jatuh ke tangan milenial. Data menunjukkan 22 persen milenial menyerah dalam mengejar rumah impian. Generasi X mengikuti dengan 17 persen, sementara Gen Z dan baby boomer masing-masing 12 persen.
“Keterjangkauan rumah di AS berada di level terburuk dalam beberapa dekade,” kata Stephen Kates, analis keuangan di Bankrate. “Kombinasi buruk antara harga rumah yang tinggi, pasokan yang rendah, dan suku bunga KPR yang tinggi menyebabkan satu dari enam pembeli rumah selama lima tahun terakhir menyerah sepenuhnya.”
Indonesia Masuk 10 Besar Negara dengan Rumah Paling Tak Terjangkau
Meski Indonesia tidak memiliki survei serupa, laporan terbaru The Economist memposisikan Tanah Air di urutan keenam sebagai negara dengan harga rumah paling tak terjangkau di dunia. Posisi ini lebih buruk dari China, Amerika Serikat, dan Inggris Raya. Situasi ini mirip dengan tekanan yang dihadapi masyarakat Indonesia yang terkendala SLIK saat mengajukan KPR.
Deretan negara dengan hunian paling mahal versi The Economist didominasi negara Asia. Filipina menempati posisi pertama, diikuti Sri Lanka, Thailand, India, dan Korea Selatan. Indonesia ada di urutan keenam, tepat di atas China.
Masalah utamanya bukan cuma harga yang mahal. Harga rumah naik jauh lebih cepat dibanding laju pendapatan masyarakat. Pasokan hunian juga tidak seimbang dengan permintaan yang terus meningkat dari generasi muda.
Krisis Perumahan Global Mengancam Generasi Muda Indonesia
Kondisi ini mengkhawatirkan karena Indonesia memiliki populasi milenial dan Gen Z yang sangat besar. Generasi ini menjadi calon pembeli rumah utama dalam satu dekade ke depan. Jika harga hunian terus melambung, bukan tidak mungkin tren menyerah seperti di AS akan menjalar ke Indonesia.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) sebenarnya sudah menggulirkan berbagai program. Mulai dari perpanjangan tenor KPR hingga 40 tahun, skema rent to own untuk masyarakat terkendala SLIK, hingga program rumah subsidi yang terus digenjot.
Namun tantangannya jauh lebih besar dari sekadar kebijakan. Gap antara daya beli masyarakat dengan harga pasar properti masih sangat lebar. Generasi muda harus memutar otak lebih keras untuk bisa mewujudkan mimpi memiliki rumah sendiri.
Krisis perumahan bukan lagi masalah lokal. Ini sudah menjadi fenomena global yang menggerus harapan generasi muda di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tanpa solusi konkret dan berkelanjutan, angka milenial yang menyerah hanya akan terus bertambah dari tahun ke tahun.













