Today

Rupiah Jebol Rp18.000, Menkeu Purbaya Pastikan Utang Pemerintah Tetap Terkendali

Olivia Destianti

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa konferensi pers APBN KiTa Edisi Februari 2026

Jakarta — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara soal tekanan dolar AS terhadap rupiah yang kini menembus level Rp18.000 per US$. Purbaya memastikan kondisi utang pemerintah tetap terkendali meski nilai tukar terus tertekan. Pernyataan ini disampaikan di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (4/6/2026), di tengah sentimen pasar yang kian gelisah.

Utang Berdenominasi Dolar Jadi Sorotan

Pelemahan rupiah memang berdampak langsung pada beban pembayaran utang pemerintah yang berdenominasi dolar. Mekanisme pembayarannya mengharuskan konversi nilai rupiah dari penerimaan negara di APBN menjadi dolar AS kepada para pemegang surat berharga negara (SBN).

“Pada waktu rupiah melemah ya meningkat kan, dalam rupiah pembayarannya,” kata Purbaya.

Pernyataan singkat itu menggambarkan realitas yang dihadapi pemerintah. Semakin lemah rupiah, semakin besar pula jumlah rupiah yang harus dialokasikan untuk membayar cicilan dan bunga utang luar negeri. Dampak serupa juga dirasakan langsung oleh sektor properti, seperti yang sempat diulas dalam artikel IHSG Anjlok 4% dan Rupiah Rp18.000, Sektor Properti Indonesia Kena Dampak Ganda.

APBN 2026 Sudah Disesuaikan Sejak Awal

Purbaya menegaskan bahwa pemerintah sudah mengantisipasi gejolak ini sejak awal. Asumsi makro dalam APBN 2026, termasuk kurs rupiah, sudah disesuaikan dari level semula Rp16.500 per US$ menjadi jauh lebih tinggi.

“Kan ada simulasi pada waktu harga BBM naik, kan? ya kita hitung di situ, adjusmentnya cukup tinggi, tapi kan saya enggak sebutkan nanti rupiah melemah signifikan. Tapi basically fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang, lebih kuat dari yang sekarang,” tegasnya.

Sikap optimistis Purbaya ini menunjukkan bahwa pemerintah memiliki ruang fiskal yang cukup untuk menghadapi tekanan eksternal. Simulasi yang sudah dilakukan memberikan semacam bantalan bagi APBN. Di sisi lain, masyarakat juga diminta bijak mengelola keuangan di tengah kondisi ini, seperti tips yang dibagikan dalam artikel Tips Hemat Biaya Bangun Rumah di Tengah Melemahnya Rupiah 2026.

Kupon Tetap Jadi Pelindung APBN

Salah satu kunci kenapa APBN tidak panik adalah struktur kupon utang pemerintah yang bersifat fixed rate. Artinya, besaran bunga yang dibayar tidak berubah meski kurs rupiah bergerak liar.

Per 30 April 2026, pemerintah memiliki 51 surat utang fixed coupon berdenominasi dolar dengan total US$57,01 miliar. Selain itu, terdapat 23 surat utang syariah negara berdenominasi dolar AS senilai US$24,32 miliar yang juga memiliki kupon tetap.

Data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan ini menunjukkan bahwa mayoritas utang luar negeri pemerintah memang sudah terstruktur dengan mekanisme yang relatif aman dari fluktuasi kurs.

Fundamental Rupiah Dinilai Masih Solid

Purbaya juga menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih lebih kuat dari yang tercermin dari pergerakan kurs saat ini. Kekhawatiran pasar lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal, termasuk konflik di Timur Tengah yang menekan harga minyak mentah dunia.

Pernyataan ini sejalan dengan langkah Bank Indonesia yang terus melakukan intervensi di pasar valas untuk menjaga stabilitas rupiah. Kombinasi kebijakan fiskal yang hati-hati dan moneter yang aktif menjadi perisai ganda bagi perekonomian nasional.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pemerintah perlu terus memantau perkembangan dan bersiap mengambil langkah antisipasi jika level Rp18.000 ini bertahan dalam waktu yang lama. Sebelumnya, pengembang juga sudah memberikan peringatan soal dampak nyata pelemahan dolar terhadap harga rumah subsidi, seperti yang diulas dalam Pengembang Siap-siap Harga Rumah Subsidi Melonjak, Dolar AS Terus Mengamuk di Atas Rp17.900.

Related Post

Leave a Comment