Jakarta — Kementerian Pekerjaan Umum menancapkan gas proyek jalan tol Serpong-Bogor via Parung. Infrastruktur strategis sepanjang 32 kilometer ini bakal memotong waktu tempuh Bogor-Tangerang dari lebih dua jam menjadi sekitar 45 menit.
Kehadiran infrastruktur baru ini menjadi momentum penting bagi pengembangan kawasan selatan Jabodetabek, terutama setelah tren proyek TOD yang digarap developer raksasa di kawasan Kembangan-Balaraja mulai menunjukkan signifikansi konektivitas bagi nilai properti.
Menteri PU Dody Hanggodo menyampaikan progres perencanaan teknis kini menembus 80 persen. Targetnya, seluruh tahapan desain selesai pada akhir tahun ini sehingga konstruksi bisa segera dimulai.
“Progres proyek saat ini masih dalam tahap penyusunan perencanaan teknis, dengan progres mendekati 80%. Kami terus mempercepat proses agar tahapan perencanaan dapat selesai tahun ini,” ujar Dody dalam keterangan tertulisnya, Minggu (31/5/2026).
Investasi Rp12,35 Triliun Tanpa APBN
Nilai investasi proyek ini mencapai Rp12,35 triliun. Yang menarik, seluruh pembiayaan berasal dari skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) tanpa menggerus APBN. Model pendanaan seperti ini memungkinkan pemerintah membangun infrastruktur besar tanpa menambah beban fiskal.
PT Bogor Serpong Infra Selaras ditunjuk sebagai konsorsium pelaksana. Entity ini merupakan gabungan empat raksasa konstruksi: PT Jasa Marga, PT Adhi Karya, PT Hutama Karya Infrastruktur, dan PT Persada Utama Infra. Masa konsesi berjangka 40 tahun.
Sementara itu, tekanan terhadap daya beli masyarakat masih terasa. Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdampak pada harga bahan bangunan, sebagaimana terlihat dalam tren pelemahan rupiah yang memukul harga rumah.
Empat Seksi dan Tiga Simpang Susun
Ruas tol terbagi dalam empat seksi. Seksi I membentang dari Salabenda ke Pondok Udik sejauh 3,97 kilometer. Seksi II memanjang dari Pondok Udik ke Putat Nutug sepanjang 9,27 kilometer. Seksi III menghubungkan Putat Nutug ke Rumpin dengan jarak 8,23 kilometer. Seksi IV, yang terpanjang, menjangkau Rumpin hingga Serpong sejauh 10,56 kilometer.
Dari sisi konektivitas, jalan tol ini dilengkapi dua junction utama—Junction Salabenda dan Junction Serpong—serta tiga simpang susun di Pondok Udik, Putat Nutug, dan Rumpin. Jaringan interchange ini dirancang untuk mendistribusikan lalu lintas secara merata dan mencegah kepadatan di titik tertentu.
Dampak Properti di Koridor Selatan Jabodetabek
Kehadiran tol Serpong-Bogor via Parung diprediksi menjadi katalis bagi pengembangan kawasan hunian di koridor selatan Jabodetabek. Aksesibilitas yang meningkat biasanya menjadi magnet bagi pengembang untuk meluncurkan proyek perumahan baru, terutama di sekitar Parung, Rumpin, dan Putat Nutug.
Selama ini kawasan tersebut masih tergolong premium lantaran waktu tempuh yang panjang. Dengan waktu perjalanan yang terpangkas drastis, harga lahan dan properti di sekitar ruas tol berpotensi mengalami koreksi naik signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Proyek ini juga akan memperkuat konektivitas antara kawasan BSD City dan Tangerang dengan Bogor. Integrasi dengan jaringan tol JORR II yang sudah ada akan menciptakan jalur logistik baru yang lebih efisien bagi mobilitas barang dan orang di kawasan metropolitan terbesar di Indonesia. Terkait tren pengembangan hunian di kawasan TOD, bisa disimak juga soal strategi pengembang membangun hunian vertikal di kawasan TOD.