Today

Rupiah Tembus Rp17.500, Harga Rumah Subsidi Terancam Naik Lagi usai Kenaikan Rp4 Juta

Jihan Amalia

Dampak Rupiah Melemah terhadap Harga Rumah Subsidi Indonesia 2026

Jakarta — Rupiah mencatat pelemahan terparah dalam sejarah dengan menembus level Rp 17.500 per dolar AS. Tekanan kurs ini mengguncang industri properti nasional yang sudah tertekan sejak kenaikan harga material dan BBM. Pertanyaan besar kini mengemuka: apakah harga rumah akan kembali naik setelah sebelumnya sudah merangkak naik Rp 4 juta per unit?

Sudah Rp 4 Juta, Kini Tambah 15 Persen

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Deddy Indrasetiawan mengungkapkan tekanan biaya yang berlapis. Kebijakan Gubernur Jawa Barat terkait penambangan sudah lebih dulu menambah biaya pembangunan sebesar Rp 4 juta per rumah. Kini, dampak perang global dan kenaikan BBM menambah beban baru.

“Pada saat kebijakan Gubernur Jawa Barat terkait tambang disetop, kami kena kenaikan Rp 4 juta per rumah. Sekarang dampak dari perang dan BBM, kenaikan material bangunan rata-rata 15%,” kata Deddy kepada CNBC Indonesia pada Selasa (12/5/2026).

Supplier Minta Bayar di Muka

Situasi semakin runyam karena perubahan pola transaksi dengan pemasok bahan bangunan. Sejumlah supplier kini mewajibkan pembayaran di muka sebelum barang dikirim. Material alam seperti batu dan pasir menjadi rebutan, sementara mebel dan keramik mengalami kenaikan signifikan akibat pelemahan rupiah.

“Kenaikan material. Sudah gitu ada beberapa material harus bayar di depan baru kemudian dikirim. Kalau material alam pasti di depan dulu sekarang. Karena rebutan,” ujar Deddy.

Penjualan Stagnan, Margin Mengerucut

Paradoks terjadi di tengah lonjakan biaya. Pasar properti residensial belum menunjukkan pemulihan berarti karena daya beli masyarakat masih tertekan. Rumah subsidi tipe 35/60 yang selama ini menjadi tulang punggung pengembang daerah menjadi unit paling terdampak. Kondisi ini membuat semakin banyak generasi muda terpaksa menunda mimpi memiliki rumah.

“Penjualan hampir sama seperti tahun lalu, belum ada peningkatan signifikan,” kata Deddy.

Sebagai catatan, rupiah ditutup melemah 0,49% ke posisi Rp 17.490 per dolar AS pada 12 Mei 2026. Level ini menjadi yang terlemah sepanjang sejarah terbaru mata uang Garuda. Sepanjang sesi perdagangan, rupiah sempat menyentuh Rp 17.525 per dolar AS.

Pengembang Terjebak di Antara Dua Tekanan

Deddy menilai dampak pelemahan rupiah sulit dipisahkan dari efek kenaikan BBM karena keduanya terjadi dalam waktu bersamaan. Kedua faktor ini sama-sama mendorong lonjakan biaya pembangunan yang pada akhirnya memukul margin pengembang.

“Ini nggak bisa kami pisahkan karena berbarengan dengan kenaikan BBM,” ujarnya.

Kondisi ini memaksa pengembang untuk berhitung ulang strategi bisnis. Di satu sisi, biaya konstruksi terus meningkat. Di sisi lain, kemampuan konsumen untuk membeli rumah baru belum pulih sepenuhnya. Jalan tengah yang tersisa hanya menahan laju proyek baru atau menyerap sendiri kenaikan biaya yang sudah terlampau berat. Bagi yang masih mencari alternatif investasi, perbandingan emas dan properti bisa menjadi pertimbangan sebelum mengambil keputusan finansial.

Related Post

Leave a Comment