Today

Harga Properti Meroket, Gen Z Terancam Tak Bisa Punya Rumah di Pusat Kota

Dimas Prayoga

Ilustrasi generasi Z menghadapi tantangan memiliki rumah di pusat kota Indonesia

Jakarta — Generasi Z Indonesia menghadapi kenyataan pahit dalam upaya memiliki rumah di pusat kota. Harga properti yang terus meroket jauh melampaui laju kenaikan penghasilan, membuat mimpi kepemilikan hunian semakin jauh dari jangkauan anak muda. Situasi ini sejalan dengan tren Gen Z yang terjebak harga properti melambung.

Center of Economic and Law Studies (CELIOS) dalam laporan Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026 mengungkap peran signifikan segelintir elit super kaya dalam mendorong kenaikan harga properti. Tanah sebagai komponen utama harga rumah banyak dikuasai pihak yang memiliki akses izin, konsensi, dan modal besar.

Tanah Dikuasai Segelintir Elit, Harga Properti Melesat

“Kepemilikan ini sering tidak diimbangi pajak yang proporsional, sehingga tanah ditimbun dan dispekulasikan, mendorong harga properti naik jauh lebih cepat dari pendapatan generasi muda,” tulis CELIOS dalam laporannya.

Dampaknya tidak sekadar ketidakmampuan membeli rumah. Akses terhadap tanah yang sudah dikuasai elit memaksa generasi muda tinggal semakin jauh dari pusat aktivitas ekonomi. Biaya hidup pun membengkak karena transportasi dan akomodasi tambahan.

Cicilan KPR Rp7 Jutaan, Gaji UMR Tak Cukup

Harga rumah baru di Jakarta saat ini berkisar di atas Rp1 miliar. Dengan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) uang muka 10% dan bunga berjenjang, cicilan bulanan bisa mencapai Rp7 jutaan. Artinya, penghasilan minimal Rp20 juta per bulan diperlukan untuk memiliki hunian di ibu kota. Kondisi ini diperparah dengan dampak kenaikan BI Rate 5,25% ke cicilan KPR.

Bahkan di kota satelit Jakarta seperti Bekasi, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Depok, harga rumah tetap tinggi antara Rp400 juta hingga Rp1 miliar. Cicilannya mencapai Rp2 jutaan saat bunga flat dan bisa melonjak ke Rp4 jutaan saat masuk masa floating rate.

Untuk kondisi ideal memiliki rumah di kota satelit, anak muda minimal membutuhkan penghasilan Rp8 hingga Rp10 juta per bulan. Sayangnya, mayoritas Gen Z bergaji setara UMR dengan status “karjimut” atau karyawan gaji imut.

Rumah Subsidi pun Masih Di Luar Jangkauan

Kondisi semakin memprihatinkan karena rumah subsidi seharga Rp166 hingga Rp185 juta pun masih di luar jangkauan Gen Z. Cicilannya menyerap 31 hingga 35% gaji UMR bulanan, bahkan hingga 48% dari penghasilan Rp2,2 juta dalam studi kasus tertentu.

“Rumah adalah kebutuhan dasar setara pangan dan kesehatan, sekaligus kunci akses pendidikan, pekerjaan, dan stabilitas hidup. Bagi generasi muda, kepemilikan rumah juga berarti kemandirian, kesiapan berkeluarga, serta alat akumulasi aset, bahkan menjadi jaminan sosial di tengah sistem perlindungan yang lemah,” jelas CELIOS.

Biaya Tersembunyi di Balik Rumah Murah

Membeli rumah di lokasi terpencil memang menawarkan harga lebih terjangkau. Namun konsekuensinya jarak tempuh ke pusat aktivitas ekonomi membengkak. Perjalanan yang seharusnya hitungan menit berubah menjadi berjam-jam di jalanan.

Uang transportasi yang harus dibayar lebih mahal menggerus dana pribadi secara signifikan. Waktu dan energi yang terkuras untuk perjalanan panjang menambah beban hidup generasi muda yang sudah berjuang keras.

Kesenjangan antara harga properti dan kemampuan finansial Gen Z terus melebar. Tanpa kebijakan tegas dari pemerintah untuk mengendalikan harga tanah dan properti, mimpi anak muda memiliki rumah di pusat kota akan tetap menjadi sekadar angan-angan belaka. Banyak yang terpaksa memilih tinggal di pinggiran kota karena harga sentuh Rp1 miliar.

Related Post

Leave a Comment