Jakarta — Pelemahan rupiah yang menembus level Rp18.015 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026) membawa dampak serius bagi industri perumahan Indonesia. Para pengembang mengakui tekanan biaya mulai terasa, meski beberapa masih berusaha bertahan dengan stok bahan bangunan yang tersisa.
Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Joko Suranto menjelaskan bahwa pelemahan rupiah berdampak langsung ke manufaktur padat karya yang bergantung pada impor. Industri perumahan dan pendukungnya, termasuk bahan bangunan, menjadi sektor yang paling rentan. Fenomena ini sejalan dengan tren kenaikan harga material bangunan yang sudah mulai terlihat belakangan ini.
Sector Subsidi Paling Terpukul
Joko menegaskan bahwa rumah bersubsidi berada di garis terdepan dampak kenaikan dolar. Sementara segmen mewah masih cukup tahan karena daya dukung konsumennya lebih tinggi.
“Kalau komersil bisa berdampak. Yang tidak terdampak itu adalah level paling atas, karena mereka punya pilihan, punya daya dukung tinggi. Sedangkan kelas menengah kan tidak punya pilihan,” ungkap Joko.
Dampak Belum Signifikan, Tapi Waktu Habis
Ketua Umum Aliansi Pengembang Perumahan Nasional (Appernas) Andriliwan Muhammad mengungkapkan kenaikan harga bahan bangunan sudah mulai dirasakan meski belum terlalu besar. Stok material yang masih menumpuk menjadi alasan utama penundaan dampak.
“Saat ini dampaknya belum signifikan. Persediaan bahan-bahan di kami masih banyak. Mungkin ini akan berdampak serius dalam 2-3 bulan ke depan. Kenaikannya bisa lebih tinggi,” jelas Andre.
Program 3 Juta Rumah Tetap Jalan
Meski menghadapi tekanan biaya yang makin berat, Andre menegaskan bahwa pengembang tetap berkomitmen mendukung program pemerintah membangun 3 juta rumah. Apalagi dengan adanya skema tenor KPR 40 tahun yang baru diluncurkan. Pemerintah juga sudah memastikan bahwa proyek perumahan nasional masih berjalan meski rupiah tertekan.
“Bagi kami, kenaikan dolar itu tidak akan mempengaruhi semangat kami untuk mendukung program 3 juta rumah. Kami berupaya untuk memenuhi program pemerintah tersebut,” ujarnya.
Situasi ini menggarisbawahi pentingnya diversifikasi bahan baku lokal dan strategi efisiensi bagi pengembang. Jika dolar terus menguat dalam tiga bulan ke depan, harga rumah subsidi bisa melonjak signifikan dan mengancam target kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Calon pembeli sebaiknya mulai mempertimbangkan langkah strategis untuk mengantisipasi kenaikan harga yang semakin tak terbendung.













