Today

Pasar Rumah Second Diproyeksi Kinclong, Gen Z Mulai Lirik Hunian Bekas di 2026

Gilang Ramadhan

Pasar Rumah Second Diproyeksi Kinclong Topang Kinerja Properti 2026

Jakarta — Pasar properti nasional mengalami gejolak signifikan sepanjang kuartal pertama 2026. Penjualan rumah baru tercatat anjlok hingga 25 persen, dipicu tekanan suku bunga Bank Indonesia yang naik menjadi 5,25 persen serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Namun di tengah tren menurun tersebut, satu segmen justru menunjukkan performa berlawanan arah — pasar rumah bekas atau properti sekunder.

Gen Z Jadi Pemain Baru di Pasar Rumah Bekas

Generasi Z, kelompok usia yang lahir antara 1997 hingga 2012, mulai menunjukkan ketertarikan signifikan terhadap hunian bekas. Harga yang lebih terjangkau menjadi alasan utama mereka melirik segmen ini dibandingkan rumah baru dari pengembang. Data dari berbagai portal properti menunjukkan bahwa pencarian rumah bekas oleh pengguna berusia 18 hingga 27 tahun meningkat pesat dalam enam bulan terakhir.

Pasar rumah bekas kini jadi peluang emas bagi Gen Z. Harganya lebih terjangkau, legalitas sudah jelas karena sudah memiliki sertifikat, dan lokasinya umumnya sudah strategis karena berada di kawasan yang lebih matang dibandingkan kawasan pengembangan baru.

BTN Lelang 10.000 Rumah Second dengan Diskon Hingga 40 Persen

Bank BTN selaku bank penyalur KPR terbesar di Indonesia turut memanaskan segmen pasar sekunder. Lewat program Lelang Akbar 2026, BTN menawarkan 10.000 unit rumah bekas dengan diskon mencapai 40 persen di bawah harga pasar. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa pelaku industri properti melihat potensi besar di pasar secondary. Strategi serupa juga diterapkan BTN melalui program KPR tenor 30 tahun untuk 5,23 juta ASN yang belum memiliki rumah.

Menurut data Bank Indonesia, harga rumah bekas di 11 kota besar Indonesia tetap mencatatkan pertumbuhan positif sepanjang kuartal pertama 2026 meskipun pelemahan rupiah memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat secara keseluruhan. Fenomena ini memperkuat argumen bahwa properti sekunder memiliki ketahanan tersendiri di tengah ketidakpastian ekonomi makro.

Mengapa Rumah Bekas Lebih Menarik di Tengah Harga Material Naik?

Kenaikan harga material bangunan yang melonjak hingga 13 persen akibat pelemahan rupiah membuat biaya konstruksi rumah baru terus merangkak. Situasi ini secara tidak langsung menguntungkan pasar rumah bekas karena pembeli tidak perlu menanggung risiko kenaikan biaya material atau potensi keterlambatan pembangunan dari pengembang.

Rumah bekas memiliki keunggulan dari sisi kondisi fisik yang sudah bisa dilihat secara langsung. Pembeli bisa mengecek kualitas bangunan, material yang digunakan, dan kondisi struktur tanpa harus menebak hasil akhir seperti saat membeli rumah inden dari pengembang. Faktor ini menjadi pertimbangan penting bagi generasi muda yang cenderung lebih kritis dalam mengambil keputusan finansial. Sebelumnya, tren membeli rumah memang sudah menjadi perhatian utama, mengingat banyak milenial Indonesia terancam kehilangan mimpi memiliki hunian sendiri.

Tren Properti 2026: KPR Digital Permudah Akses Pembiayaan

Inovasi di sektor pembiayaan perumahan juga mendukung pertumbuhan pasar sekunder. BTN menggandeng Pinhome untuk meluncurkan layanan KPR Digital yang memungkinkan calon pembeli mencari, mengajukan pembiayaan, hingga menyelesaikan transaksi secara terintegrasi. BRI juga tidak ketinggalan dengan menawarkan KPR Solusi berbunga mulai 2,5 persen untuk aset lelang dan non lelang. Upaya mempermudah akses pembiayaan ini sejalan dengan kebijakan KPR tenor 40 tahun yang dapat menurunkan cicilan rumah subsidi hingga Rp773 ribu per bulan.

Kombinasi antara harga yang lebih rendah, legalitas yang sudah pasti, serta kemudahan akses pembiayaan membuat pasar rumah bekas menjadi alternatif strategis di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan. Bagi mereka yang ingin memiliki hunian pertama tanpa harus menunggu bertahun-tahun menabung, pasar sekunder menawarkan jalan pintas yang tetap rasional secara finansial.

Prospek pasar properti sekunder di sisa tahun 2026 tampaknya masih cerah. Selama suku bunga kebijakan Bank Indonesia tidak melonjak drastis dan pelemahan rupiah bisa terkendali, permintaan terhadap rumah bekas diperkirakan akan terus menunjukkan tren positif. Gen Z yang mulai memasuki usia produktif akan menjadi motor penggerak utama permintaan di segmen ini.

Related Post

Leave a Comment