Jakarta — Penjualan rumah di kawasan Banten dan Tangerang Raya mengalami penurunan signifikan sepanjang kuartal I 2026. Data Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mencatat angka penjualan properti di pasar primer anjlok 25,67% secara tahunan, berbalik dari pertumbuhan 7,83% pada kuartal IV 2025.
Segmen yang paling terdampak adalah rumah menengah dengan kisaran harga Rp1 miliar hingga Rp3 miliar. Kawasan Serpong, BSD, dan Tangerang Selatan yang selama ini menjadi tulang punggung pasar properti Banten kini justru menghadapi tekanan paling berat.
Konsumen Turun Kelas, Daya Beli Merosot
Ketua DPD Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Provinsi Banten Vemby memaparkan, kondisi ekonomi domestik yang belum pulih ditambah gejolak global membuat calon pembeli memilih menunda transaksi. PHK massal, kenaikan harga minyak, dan inflasi yang meningkat menjadi alasan utama konsumen berhati-hati mengeluarkan dana besar untuk properti.
“Jualannya menurun di tahun ini karena banyak kendala. Ekonomi juga lagi nggak bagus, banyak PHK atau pengurangan pekerja. Dari luar juga ada efek perang, harga minyak naik, inflasi naik, jadi orang lebih jaga-jaga dan menunda pembelian,” ujar Vemby.
Fenomena menarik terjadi di mana banyak pembeli yang sebelumnya membidik rumah senilai Rp2-3 miliar akhirnya turun kelas ke properti Rp1-1,5 miliar. Pergeseran demand ini memperlihatkan tekanan daya beli yang semakin nyata di kalangan menengah, sejalan dengan tren gaji milenial yang tak sebanding dengan harga rumah.
Omzet Agen Properti Anjlok Hingga 30%
Penurunan transaksi tidak hanya dirasakan oleh satu atau dua kantor agen. Menurut Vemby, mayoritas broker properti di wilayah Tangerang Raya mengalami kondisi serupa. Rata-rata omzet agen properti turun lebih dari 30% dibandingkan tahun lalu. Padahal, Tangerang sebelumnya digadang-gadang menggeser Jakarta Selatan sebagai kawasan incaran baru pencari hunian.
“Kalau ngobrol sama teman-teman agen juga pada ngeluh memang turun dibanding tahun kemarin,” tambah Vemby.
Sementara itu, harga properti residensial hanya tumbuh terbatas 0,62% secara tahunan. Kondisi ini menciptakan kesenjangan antara harga jual yang masih tinggi dengan kemampuan konsumen yang semakin terbatas, ditambah dampak pelemahan rupiah yang memukul sektor perumahan dari berbagai sisi.
End User Mendominasi, Proses Transaksi Lebih Panjang
Vemby melihat, konsumen yang aktif saat ini didominasi oleh end user atau pembeli akhir, bukan investor. Karakter pembeli seperti ini membuat proses transaksi menjadi lebih panjang karena calon pembeli cenderung membandingkan banyak pilihan sebelum memutuskan membeli.
“Sekarang lebih banyak end user. Mereka lebih picky, lebih detail lihat lingkungan, harga, compare banyak properti lain. Jadi decision making-nya lebih panjang,” ungkap Vemby.
Pemandangan rumah dijual dengan embel-embel “Jual Cepat” kini semakin marak terlihat di wilayah Tangerang Selatan. Banyak pemilik properti yang rela menjual asetnya dengan harga di bawah pasaran agar bisa segera terjual di tengah kondisi pasar yang lesu.











