Saturday, 30 May 2026

Harga Rumah Baru Balikpapan Naik, Penjualan Anjlok 55 Persen di Tengah Tekanan Biaya

Harga Rumah Baru di Balikpapan Naik di Tengah Penurunan Properti Komersial

Jakarta — Harga rumah baru di Balikpapan terus merangkak naik meski pasar properti komersial justru mengalami penurunan di kuartal I 2026. Survei Bank Indonesia (BI) Balikpapan mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) berada di posisi 107,67, tumbuh 1,44 persen secara year on year — jauh lebih tinggi dari periode sebelumnya yang hanya 0,43 persen.

Seluruh Tipe Rumah Kenaikan Harga, Tipe Besar Paling Tajam

Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, menjelaskan kenaikan harga berlaku menyeluruh di semua segmen rumah. Tipe besar mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 2,93 persen year on year. Di belakangnya, rumah tipe kecil naik 1,85 persen, sementara tipe menengah hanya tumbuh 0,38 persen.

“Penyesuaian harga dilakukan pengembang untuk mengakomodasi kenaikan harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja,” ujar Robi dalam keterangan tertulisnya, Jumat (29/5/2026). Tekanan biaya material memang menjadi persoalan nasional, termasuk meroketnya harga material bangunan hingga 15 persen akibat pelemahan rupiah.

Volume Penjualan Anjlok 55 Persen, Tipe Kecil Paling Terpukul

Ironisnya, harga yang terus naik berbanding terbalik dengan animo pembeli. Jumlah rumah baru yang terjual di kuartal I 2026 hanya 72 unit, merosot tajam 55,56 persen dari 162 unit pada periode yang sama tahun lalu. Fenomena penjualan anjlok ini juga terjadi di segmen rumah subsidi secara nasional, di mana penjualan rumah subsidi mengalami tekanan serupa.

Segmen tipe kecil menjadi korban paling parah. Penjualan rumah tipe ini jatuh dari 109 unit menjadi 36 unit atau turun 66,97 persen. Tipe besar turun dari 32 unit menjadi 19 unit, sementara tipe menengah menyusut dari 21 unit menjadi 17 unit.

Ramadan dan Harga Jadi Faktor Penunda Pembelian

Robi menilai dua faktor utama memicu penurunan volume transaksi. Pertama, masyarakat mengalihkan prioritas belanja selama Ramadan dan Idul Fitri. Kedua, kenaikan harga rumah yang terus berlanjut membuat sebagian konsumen memilih menunda keputusan pembelian.

Dampak penurunan penjualan juga terasa di sisi suplai. Jumlah unit rumah baru yang dibangun pengembang ikut berkurang sepanjang kuartal I 2026. Namun, sejumlah pengembang tetap optimistis terhadap prospek pasar properti Balikpapan ke depan.

Pengembang Siapkan Strategi Bertahan

Untuk menghadapi tantangan ini, pengembang menyiapkan sejumlah langkah strategis. Mereka memperbanyak penyediaan rumah tipe kecil dan menengah yang lebih terjangkau, memperkuat promosi, serta menghadirkan inovasi desain rumah agar lebih menarik bagi calon pembeli.

Dari sisi pembiayaan, mayoritas konsumen masih mengandalkan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Pangsa pembelian rumah baru melalui KPR tercatat 71 persen di kuartal I 2026, meski turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ketergantungan pada KPR ini membuat konsumen sangat rentan terhadap perubahan suku bunga, seperti yang terjadi akibat kenaikan BI Rate ke 5,25 persen yang berdampak pada cicilan KPR.

Paradoks harga naik tapi penjualan jatuh ini menjadi sinyal penting bagi pengembang dan pemerintah daerah untuk mencari solusi agar rumah tetap terjangkau tanpa mengorbankan kualitas konstruksi. Di tengah tekanan biaya material dan upah, keseimbangan antara harga jual dan daya beli masyarakat menjadi kunci keberlanjutan pasar properti Balikpapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *