Jakarta — Ketua Komisi XI DPR RI, M. Misbakhun, memaparkan analogi unik tentang ekonomi Indonesia dalam acara Jogja Financial Festival 2026 di Yogyakarta. Ia mengibaratkan ekonomi nasional seperti secangkir kopi, di mana setiap elemen memiliki peran krusial dalam menentukan kesejahteraan masyarakat.
“Makro ekonomi itu bukan hanya sekedar angka-angka, tetapi kita punya pertumbuhan, inflasi, sejarah. Jadi kita punya tekanan tapi harus meyakinkan kalau kita menggenggam secangkir kopi, ada mekanisme yang berputar disana,” ungkap Misbakhun di Jogja Expo Center, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026).
Biji Kopi hingga Gaji Barista: Memahami Ekonomi Melalui Secangkir Kopi
Misbakhun menjelaskan bahwa biji kopi merepresentasikan perdagangan global, lengkap dengan fluktuasi nilai tukar rupiah dan rantai pasok internasional yang menentukan harga bahan baku. Situasi ini mengingatkan pada kondisi pelemahan rupiah yang berdampak luas terhadap berbagai sektor ekonomi nasional. Sementara gula dan susu diibaratkan sebagai inflasi nasional, di mana kebijakan stabilisasi harga pangan dapat mempengaruhi biaya produksi secara signifikan.
Bagian paling menarik dari analogi ini adalah gaji barista yang diibaratkan sebagai local employment. Angka ini mencerminkan daya beli masyarakat dan penciptaan lapangan kerja di sektor riil. Misbakhun menegaskan bahwa ekonomi makro bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan denyut nadi yang menentukan apakah secangkir kopi seharga Rp 35.000 hari ini akan tetap terjangkau esok hari.
Daya Beli Jadi Penggerak Utama Ekonomi Nasional
Data menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga menyumbang hingga 50% dari total pertumbuhan ekonomi Indonesia. Angka ini menjadikan daya beli sebagai mesin penggerak paling besar bagi perekonomian nasional. Kondisi ini sejalan dengan tren penjualan rumah subsidi yang mengalami penurunan, yang mencerminkan tekanan terhadap daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.
“Anak muda harus tahu bagaimana ekonomi digulirkan, generasi milenial, generasi Z hingga boomer, bisa menjadi satu kesatuan untuk menggerakan ekonomi. Ini menjadi kekuatan yang dinamakan daya beli,” tegas Misbakhun.
Pernyataan ini menegaskan pentingnya literasi ekonomi bagi generasi muda, terutama di tengah tekanan global akibat pelemahan rupiah dan ketidakpastian pasar internasional. Keterampilan memahami mekanisme ekonomi menjadi kunci agar generasi penerus mampu mengambil keputusan finansial yang tepat dan berkontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.











