Jakarta — PT Kereta Api Indonesia (KAI) resmi mengumumkan proyek apartemen baru di kawasan strategis tepat di samping Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan. Proyek ini menandai langkah besar KAI dalam mengembangkan konsep Transit Oriented Development (TOD) di tengah kota.
Pembangunan hunian vertikal setinggi 24 lantai dengan tujuh tower ini akan dilakukan oleh anak usaha KAI, yakni PT KA Properti Manajemen. Groundbreaking direncanakan dimulai pada Juli 2026 mendatang.
Kawasan Manggarai menjadi salah satu simpul transportasi utama di Jakarta. Potensi pengembangan hunian di sekitar stasiun kereta memang menjadi tren baru dalam industri properti nasional, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat urban terhadap aksesibilitas.
Harga Mulai Rp500 Juta, Ada Kuota MBR
Proyek ini menempati lahan seluas 2,1 hektare milik KAI. Total unit yang akan dibangun mencapai 4.642 hunian, terbagi dalam dua blok dengan target pasar berbeda.
Blok F dikembangkan untuk segmen premium dengan 3.432 unit hunian. Sementara Blok G difokuskan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dan Masyarakat Berpenghasilan Tertentu (MBT) dengan 1.210 unit.
“Untuk Blok G tipe unitnya adalah tipe 36 dan tipe 45. Secara harga, untuk tipe MBR kami buka mulai dari angka Rp500 juta sampai Rp630 juta untuk luasan 45,” ungkap Direktur Komersial PT KA Properti Manajemen Endiyanto.
Target Rampung Akhir 2027
KAI menargetkan konstruksi apartemen ini selesai pada akhir 2027. Dengan lokasi yang langsung berdampingan dengan Stasiun Manggarai, hunian ini menawarkan aksesibilitas tinggi bagi penghuninya.
Konsep TOD yang diusung KAI ini menjadi solusi hunian urban di tengah keterbatasan lahan. Kawasan Manggarai sendiri merupakan simpul transportasi utama yang menghubungkan berbagai jalur komuter lintas Jakarta.
Proyek ini menjadi bagian dari strategi KAI dalam mengoptimalkan aset lahan di sekitar stasiun kereta api. Potensi transit-oriented development dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi mengingat mobilitas masyarakat urban yang terus meningkat.
Dalam konteks pasar properti yang sedang menghadapi berbagai tantangan seperti proyeksi properti RI 2026 yang penuh liku, langkah KAI ini menjadi penanda optimisme baru. Sementara itu, preferensi generasi muda dalam mencari hunian juga terus bergeser ke arah kemudahan akses transportasi.
Tak bisa dipungkiri, tekanan NPL properti yang meningkat menjadi tantangan tersendiri bagi pengembang. Namun, proyek bernuansa TOD dengan harga terjangkau seperti ini dinilai mampu menjadi penyeimbang di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih.











