Saturday, 30 May 2026

Pasar Properti Nasional Terpukul, KPR 40 Tahun Jadi Harapan Pengembang

Proyek pembangunan perumahan di Depok Jawa Barat

Jakarta — Pasar perumahan nasional menghadapi tantangan serius di tengah perlambatan ekonomi dan pelemahan rupiah. Kalangan pengembang melaporkan penurunan penjualan yang signifikan baik untuk rumah subsidi maupun komersial di berbagai daerah, termasuk Jawa Barat dan Jawa Tengah yang selama ini menjadi penopang utama industri properti nasional.

KPR 40 Tahun Jadi Harapan Baru Pengembang

Di tengah kondisi yang kian menekan, Real Estate Indonesia (REI) menaruh harapan besar pada rencana pemerintah memperpanjang tenor Kredit Pemilikan Rumah (KPR) hingga 40 tahun. Kebijakan ini dinilai mampu membuka akses kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang sebelumnya sulit mendapatkan pembiayaan bank. Sebelumnya, pemerintah telah mengumumkan program KPR 40 tahun dengan cicilan mulai Rp700 ribuan untuk memperluas akses hunian MBR.

“Presiden berani men-statement-kan sesuatu yang kita sudah perjuangkan hanya untuk extend 10 tahun saja sulit, beliau satu kali lipat. Jadi 40 tahun masa tenor KPR ini membuka peluang besar,” kata Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Nelly Suryani atau kerap disapa Maria.

Realisasi FLPP Tercatat Jauh dari Target

Data terkini memperlihatkan penyerapan KPR subsidi FLPP masih didominasi oleh kelompok masyarakat desil 4 sampai 6. Dengan tenor yang lebih panjang, cicilan rumah diprediksi akan turun secara signifikan sehingga masyarakat bergaji Rp2 jutaan pun bisa menjangkau hunian subsidi.

“Begitu masa tenor diperpanjang menjadi 40 tahun maka angsurannya turun kepada Rp773 ribu sekian. Sehingga bank selalu mensyaratkan sepertiga penghasilan, maka ini bisa menjangkau masyarakat dengan gaji Rp2,3 juta sampai Rp2,5 juta,” ujar Maria.

Jawa Barat dan Jawa Tengah Terpukul

Hingga 21 Mei 2026, realisasi FLPP anggota REI baru mencapai sekitar 24 ribu unit atau hanya 42% dari total realisasi nasional sebanyak 59.458 unit. Kondisi ini menunjukkan tekanan berat yang dialami pasar properti nasional. Sementara itu, beberapa pengembang mulai mencari strategi alternatif seperti strategi amankan cicilan KPR saat suku bunga naik.

“Yang memprihatinkan itu angkanya. Not even 30 ribu. Jawa Barat yang biasanya kuat sekarang hanya tumbuh 24 persen, Jawa Tengah malah lebih parah,” ungkap Maria.

Seluruh DPD REI Alami Kesulitan

Banyak daerah yang sebelumnya menjadi andalan penjualan rumah subsidi mulai kehilangan momentum. Maria membeberkan bahwa seluruh realisasi REI di 37 DPD (Dewan Pengurus Daerah) kini berada dalam kondisi yang sangat sulit.

“Seluruh daripada realisasi REI menceritakan 37 DPD kami semua dalam kondisi sangat-sangat susah,” kata Maria dalam acara Diskusi Media Inovasi Pembiayaan Perumahan Bagi Pekerja Informal di Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (22/5/2026).

Kondisi ini mendorong REI untuk terus mendorong pemerintah agar segera merealisasikan program KPR 40 tahun sebagai solusi jangka panjang bagi permasalahan akses perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah di Indonesia. Di sisi lain, pemerintah juga tengah menggodok berbagai strategi untuk mempercepat penyaluran KPR bagi ASN dengan tenor hingga 30 tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *