Jakarta — Bank Tabungan Negara (BTN) menargetkan pembiayaan 20.000 unit rumah rendah emisi pada 2026, menembus angka tertinggi dalam sejarah program keberlanjutan perbankan pelat merah ini. Langkah ambisius ini menjadi bagian dari komitmen BTN menerapkan praktik green banking secara menyeluruh di sektor perumahan Indonesia. BTN sebelumnya juga sudah menyalurkan pembiayaan untuk 150.000 unit rumah rendah emisi dari bahan daur ulang dalam rencana jangka panjangnya.
Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, mengungkapkan capaian signifikan yang sudah diraih hingga akhir 2025. BTN telah menyalurkan pembiayaan untuk pembangunan 11.000 rumah rendah emisi di berbagai daerah, mulai dari Legok di Banten, Cileungsi di Kabupaten Bogor, Medan, Semarang, Cirebon, hingga Bekasi.
Startup Daur Ulang Jadi Motor Penggerak
Keunikan program ini terletak pada keterlibatan startup lokal yang memproduksi material bangunan ramah lingkungan dari sampah plastik. Rebrick, Plustik, dan Green Brick menjadi tiga nama utama yang mengumpulkan bungkus mie instan serta sachet sabun dan sampo, lalu mengolahnya menjadi bahan bangunan untuk flooring, paving, dan dinding. Tren penggunaan material eco-friendly sebagai standar baru bangunan hijau di 2026 makin menguat di Indonesia.
“Setiap produsen memiliki produk yang berbeda-beda namun mereka saling melengkapi. Dengan rumah rendah emisi ini justru kita menciptakan beberapa startup baru di bidang recycle plastik,” tutur Setiyo dalam Media Briefing Program Rumah Rendah Emisi di Perumahan Mutiara Gading City, Bekasi.
Target Jangka Panjang Hingga 200.000 Unit
Bukannya puas dengan target 20.000 unit di 2026, BTN sudah merancang peta jalan jangka panjang yang jauh lebih besar. Hingga 2029, BTN menargetkan pembangunan 150.000 unit rumah rendah emisi, dan pada 2030 diharapkan mampu mencapai 200.000 unit secara kumulatif.
Program ini pertama kali diluncurkan pada kuartal IV-2024 bersama sejumlah developer dengan target awal 1.000 unit dalam tiga bulan. Perjalanan dua tahun terakhir membuktikan bahwa konsep rumah hijau bukan sekadar narasi, melainkan bisnis nyata yang terus berkembang. Inovasi material bangunan terus bermunculan, termasuk dalam ajang IndoBuildTech Bandung 2026 yang memamerkan inovasi material bangunan terbaru.
Insentif Developer dan Nasabah KPR
BTN menyiapkan berbagai insentif menarik untuk mendorong lebih banyak developer bergabung. Suku bunga untuk developer rumah rendah emisi sudah diturunkan hingga 25 basis poin, dan insentif lainnya akan distandarisasi menjadi paket yang lebih komprehensif.
Menariknya, BTN juga melibatkan nasabah KPR melalui program “Bayar Angsuran-Mu Pakai Sampah-Mu”. Program ini memungkinkan debitur KPR mengumpulkan sampah rumah tangga melalui startup Rekosistem, yang nantinya dikonversi menjadi rupiah untuk mengurangi angsuran KPR sekitar 10-15% per bulan atau sekitar Rp100.000-150.000.
Prestasi BTN dalam penerapan prinsip ESG (Environment, Social, and Governance) mendapatkan pengakuan internasional. Ratu Belanda Queen Maxima memberikan apresiasi saat kunjungannya ke Indonesia pada 2025 lalu, dan BTN meraih ESG Rating AA berdasarkan MSCI ESG Ratings, menempatkan perseroan sebagai yang terdepan di antara seluruh perbankan nasional.
Ke depan, BTN berharap dapat meningkatkan total loan portfolio-nya di sustainability atau ESG menjadi 60% pada 2026 dari 52% saat ini, memperkuat posisi sebagai pelopor perbankan hijau di Indonesia.













