Jakarta — Pemerintah Indonesia menyiapkan skema pendanaan kreatif untuk mewujudkan proyek jalur kereta api Trans Sumatra yang menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung. Proyek ambisius bernilai US$25 miliar atau sekitar Rp350 triliun ini tidak akan mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semata, melainkan melibatkan sektor swasta dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan perlunya inovasi pendanaan di luar anggaran negara untuk merealisasikan proyek berskala besar ini. Dudy menyatakan bahwa pemerintah harus berinovasi untuk mendapatkan pendanaan di luar APBN, mengingat kebutuhan dana yang sangat besar. Komitmen pemerintah terhadap kelanjutan infrastruktur tetap kuat meski Rupiah melemah dan harga BBM naik.
Rencana pengembangan jaringan kereta api lintas Sumatra ini merupakan bagian dari arahan langsung Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah menilai moda transportasi rel dapat menjadi solusi untuk menekan biaya logistik sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi barang antardaerah di luar Pulau Jawa.
Banda Aceh-Besitang Jadi Prioritas Pertama
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa tahap awal pembangunan akan difokuskan pada penyambungan jalur di wilayah Sumatra bagian utara. Prioritas pertama adalah menghubungkan Banda Aceh dengan Besitang, Sumatra Utara, yang selama ini masih terputus. KAI juga sedang gencar mengembangkan kawasan stasiun menjadi pusat ekonomi baru, termasuk pengembangan Stasiun Manggarai menjadi CBD baru.
“Prioritas kita yang pertama itu adalah menghubungkan antara Banda Aceh dengan Besitang, itu totalnya sekitar 478 km. Ini DED (Detail Engineering Design)-nya kita lagi bikin ya,” kata Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Jalur yang akan direaktivasi ini mencakup lintasan Banda Aceh-Sigli sepanjang sekitar 80 kilometer dan Sigli-Bireuen-Lhokseumawe-Besitang sepanjang kurang lebih 398 kilometer. Selain itu, KAI juga menyiapkan reaktivasi sejumlah jalur lama di Sumatra Barat dengan total mencapai sekitar 248,5 kilometer.
Ribuan Kilometer Jalur Baru Direncanakan
Selain menghidupkan kembali jalur lama, KAI juga memasukkan sejumlah pembangunan jalur baru yang tercantum dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS). Beberapa koridor yang direncanakan antara lain Rantau Prapat-Dumai, Duri-Pekanbaru, Pekanbaru-Rengat, Rengat-Jambi, Kertapati-Tarahan-Bakauheni, hingga Lubuklinggau-Bengkulu dengan total panjang sekitar 1.110 kilometer.
Untuk mendukung logistik nasional, KAI juga menyiapkan pengembangan jalur angkutan batu bara Tanjung Enim Baru-Tarahan II dengan total panjang sekitar 313 kilometer. Proyek ini mencakup pembangunan jalur baru dan peningkatan kapasitas lintasan yang sudah ada. Realisasi proyek ini akan menyerap sebagian besar anggaran PU tahun 2026 yang sudah terserap Rp33,49 triliun.
Saat ini jalur kereta api di Sumatra masih belum tersambung secara utuh dari ujung utara hingga selatan pulau. Operasional kereta masih berjalan dalam beberapa segmen yang terpisah sehingga belum membentuk satu koridor terintegrasi. Realisasi proyek ini diperkirakan akan mempercepat konektivitas antarprovinsi dan membuka potensi pengembangan kawasan baru di sepanjang jalur rel.











