Today

IHSG Ambruk 4%, Terburuk di Dunia: Moody’s dan Rupiah Jadi Biang Kerok

Siti Nurhaliza

Karyawan di depan layar pergerakan harga saham IHSG di Bursa Efek Indonesia

Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada Rabu (3/6/2026), menutup perdagangan di posisi 5.941 atau melemah 4,11% dari penutupan sebelumnya. Penurunan ini menjadikan IHSG sebagai bursa saham dengan pelemahan terdalam di dunia pada hari tersebut, mengalahkan indeks dari Swiss, Hong Kong, hingga Jerman.

Rating Moody’s Picu Kekhawatiran Investor

Aksi jual masif yang menghantam pasar saham domestik tidak terlepas dari keputusan lembaga pemeringkat Moody’s yang memberikan outlook negatif terhadap Danantara Investment Management (DIM). Keputusan tersebut memicu kepanikan di kalangan investor, terutama asing yang kembali mencatat net sell dalam jumlah besar.

Sepanjang sesi perdagangan, rentang pergerakan IHSG terjadi pada kisaran 6.213 hingga terendahnya menyentuh 5.841. Tekanan jual yang deras terjadi sejak sesi pembukaan dan terus berlanjut hingga penutupan, menandakan minimnya kepercayaan pasar terhadap prospek jangka pendek.

Menkeu Purbaya: Fundamental Ekonomi Masih Kuat

Meski pasar sempat panik, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih dalam kondisi solid. Ia menilai penurunan IHSG lebih disebabkan oleh sentimen jangka pendek ketimbang pelemahan struktural.

“Jangan takut, fundamental ekonomi bagus. Jadi ini mungkin ada short, ketakutan jangka pendek,” kata Purbaya saat ditemui usai rapat di DPR, Rabu (3/6/2026).

Purbaya mencontohkan bahwa pendapatan dari sektor perpajakan masih menunjukkan tren positif. Okupansi hotel dan hiburan juga masih terjaga, menjadi indikator bahwa daya beli masyarakat belum mengalami penurunan signifikan.

“Daya beli masyarakat masih cukup kuat. Itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi kita. Jadi nggak usah takut kita akan jeblok atau apa,” tegasnya.

Dampak Terhadap Sektor Properti

Pelemahan IHSG dan rupiah yang berlanjut ke level Rp17.957 per dolar AS berpotensi memberikan tekanan tambahan bagi sektor properti nasional. Biaya impor bahan bangunan yang mengandung komponen valuta asing diperkirakan akan meningkat, sementara suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) berpotensi terus naik seiring kebijakan moneter yang masih ketat.

Investor asing yang selama ini menjadi penopang likuiditas pasar saham juga mulai mengalihkan portofolio ke instrumen yang dianggap lebih aman. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengembang yang bergantung pada pembiayaan dari pasar modal. Pasar properti nasional memang sedang mengalami anomali, di mana segmen mewah masih bergairah sementara menengah tertekan.

Sementara itu, ekonom Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Badiul Hadi menyoroti bahwa pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari pembengkakan impor komoditas energi yang menyedot devisa dalam jumlah masif.

“Kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi meningkat drastis dalam waktu singkat. Ini menunjukkan bahwa surplus ekspor Indonesia sebenarnya banyak terkuras untuk membayar kebutuhan energi yang diimpor,” ujar Badiul.

Related Post

Leave a Comment