Today

Industri Properti RI Bidik Hunian Berkelanjutan, Investasi Rp75 T Semakin Bergairah

Budi Hartono

Ilustrasi hunian berkelanjutan di Indonesia tahun 2026

Jakarta — Sektor properti Indonesia memasuki babak baru di tengah tren global yang mengarah pada keberlanjutan. Bukan sekadar membangun rumah, pelaku industri kini berlomba menghadirkan hunian yang ramah lingkungan sekaligus menguntungkan secara finansial.

Data Real Estate Indonesia (REI) menunjukkan realisasi investasi properti mencapai sekitar Rp 75 triliun pada semester II 2025, naik 3,71 persen secara tahunan. Sementara itu, kontribusi sektor properti terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) diproyeksikan melonjak dari sekitar 10 persen menjadi 11,5 persen pada 2026.

Hunian Berkelanjutan Jadi Magnet Baru Investasi

Perubahan arah pengembangan properti ini tidak terjadi secara kebetulan. Pelaku industri kini mengintegrasikan desain, riset, dan inovasi teknologi untuk menciptakan hunian yang lebih adaptif terhadap tantangan urbanisasi dan perubahan iklim.

Perusahaan hunian global Lixil menjadi salah satu aktor utama dalam pergeseran ini. Mereka mendorong kolaborasi lintas disiplin antara arsitek, desainer, dan peneliti untuk merancang konsep hunian yang tidak hanya nyaman, tetapi juga berkelanjutan.

“Kolaborasi adalah kunci dan standar baru untuk membentuk kualitas ruang hidup yang lebih baik. Lanskap arsitektur masa kini harus mampu memberikan kontribusi yang lebih luas, mulai dari kelestarian lingkungan, kesejahteraan masyarakat, hingga kemajuan pembangunan nasional,” ujar Marketing Director Lixil Water Technology Indonesia, Arfindi Batubara.

Pengelolaan Air dan Ruang Hijau Jadi Fokus Utama

Di balik tren hunian berkelanjutan, tersimpan masalah mendasar yang kerap diabaikan: krisis air dan keterbatasan ruang hijau di kawasan perkotaan. Founder Mamostudio, Adi Purnomo, menilai isu ini menjadi bagian krusial yang harus dijawab oleh pengembang properti.

Konsep paviliun Oase yang diusung Mamostudio lahir sebagai respons atas tantangan tersebut. Pendekatan ini menghadirkan elemen air dan ruang hijau sebagai simbol bagaimana properti dapat dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.

“Intinya bukan sekadar membangun ruang, tetapi bagaimana properti bisa menjadi solusi atas persoalan kota. Pendekatan berbasis penelitian dan kolaborasi seperti ini penting agar desain yang dihasilkan benar-benar relevan dengan tantangan yang dihadapi masyarakat,” kata Adi.

Pasar Properti Mulai Menunjukkan Pemulihan

Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) tercatat tumbuh sekitar 0,83 persen secara tahunan pada akhir 2025. Angka ini menandakan stabilitas pasar di tengah tekanan ekonomi, meskipun pertumbuhannya masih terbatas.

Pembelian rumah masih didominasi oleh skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan porsi lebih dari 74 persen. Peran sektor pembiayaan ini menjadi penopang utama permintaan di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih.

Ke depan, tren investasi di sektor properti diperkirakan semakin menguat seiring pemulihan pasar yang mulai terlihat sejak akhir 2025. Segmen perkantoran, ritel, dan kawasan industri menjadi area yang paling prospektif untuk ekspansi.

Related Post

Leave a Comment