Today

Penjualan Rumah Anjlok, Pengembang Bertaruh pada KPR 40 Tahun sebagai Penyelamat

Proyek pembangunan perumahan di Depok Jawa Barat

Jakarta — Pasar perumahan nasional sedang menghadapi tekanan berat. Penjualan rumah subsidi maupun komersial terpukul di berbagai daerah, termasuk Jawa Barat dan Jawa Tengah yang selama ini menjadi penopang utama industri properti Indonesia. Data terbaru menunjukkan realisasi penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) oleh anggota Real Estate Indonesia (REI) baru mencapai sekitar 24 ribu unit per 21 Mei 2026, atau hanya 42% dari total realisasi nasional sebanyak 59.458 unit.

Jawa Barat dan Jawa Tengah Kehilangan Momentum

Wakil Ketua Umum DPP REI Nelly Suryani mengungkapkan kondisi yang memprihatinkan dari para pengembang anggotanya. Jawa Barat, yang biasanya menjadi mesin penjualan rumah subsidi, hanya mampu mencatat pertumbuhan 24%. Sementara itu, Jawa Tengah mengalami kondisi yang lebih buruk lagi.

“Seluruh daripada realisasi REI menceritakan 37 DPD kami semua dalam kondisi sangat-sangat susah,” ujar Nelly dalam Diskusi Media Inovasi Pembiayaan Perumahan Bagi Pekerja Informal di Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (22/5/2026).

KPR 40 Tahun Jadi Harapan Baru

Di tengah lesunya pasar, pengembang menaruh harapan besar pada rencana pemerintah memperpanjang tenor Kredit Pemilikan Rumah (KPR) hingga 40 tahun. Kebijakan ini dipercaya bisa membuka akses rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang selama ini kesulitan lolos pembiayaan bank.

“Presiden berani men-statement-kan sesuatu yang kita sudah perjuangkan hanya untuk extend 10 tahun saja sulit, beliau satu kali lipat. Jadi 40 tahun masa tenor KPR ini membuka peluang besar,” kata Nelly.

Dengan tenor yang lebih panjang, cicilan rumah subsidi bisa turun drastis menjadi sekitar Rp773 ribu per bulan. Artinya, masyarakat dengan gaji Rp2,3 juta hingga Rp2,5 juta sudah bisa memenuhi syarat bank yang mensyaratkan cicilan maksimal sepertiga penghasilan.

Tantangan di Tengah Tekanan Rupiah

Situasi makin rumit lantaran pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS berpotensi menambah beban biaya material bangunan. Sejumlah pengembang sudah mengingatkan bahwa harga rumah subsidi bisa terkoreksi naik dalam tiga bulan ke depan jika tekanan kurs terus berlanjut. Tekanan serupa juga dirasakan dalam cicilan KPR akibat kenaikan BI Rate yang terjadi belakangan ini.

Kondisi ini menciptakan dilema tersendiri bagi industri perumahan. Di satu sisi, penjualan menurun tajam. Di sisi lain, biaya produksi terus merangkak naik. Tenor KPR 40 tahun menjadi satu-satunya jalan keluar yang saat ini paling realistis untuk menghidupkan kembali permintaan rumah subsidi di tengah tekanan ganda tersebut.

Related Post

Leave a Comment