Today

Perang Iran Bikin Biaya Logistik Naik, Dampak ke Harga Rumah Ternyata Kecil

Dewi Anggraeni

Dampak perang AS-Israel vs Iran terhadap harga rumah Indonesia

Jakarta — Perang geopolitik di Timur Tengah mulai mengancam kantong masyarakat Indonesia. Harga energi yang meroket akibat konflik AS-Israel versus Iran berdampak langsung pada biaya logistik pengiriman material bangunan. Namun, Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Joko Suranto memastikan sektor properti nasional masih memiliki ketahanan yang cukup kuat untuk menahan gempuran ini.

Konflik yang berkepanjangan di kawasan Selat Hormuz memicu harga minyak mentah dunia melambung. Dampaknya terasa hingga ke biaya transportasi dan distribusi material pembangunan rumah di Tanah Air. Kondisi ini mengingatkan pada tren pelemahan rupiah yang mulai menggerogoti biaya pembangunan rumah subsidi sebelumnya. Pertanyaannya, apakah harga hunian akan ikut terkerek naik secara signifikan?

Biaya Logistik Naik, Tapi Masih Terkendali

Joko Suranto menjelaskan bahwa kenaikan biaya logistik menjadi dampak paling awal yang dirasakan oleh pengembang properti. Ketika harga bahan bakar meroket, ongkos pengiriman material dari pabrik ke lokasi proyek pun ikut membengkak.

“Kalau dampak yang awal adalah pasti kalau itu kaitannya dengan bahan bakar. Ketika itu kaitannya ini kan berarti naik dari sisi biaya logistik,” kata Joko kepada CNBC Indonesia, Jumat (6/3/2026).

Meski demikian, kenaikan biaya logistik tersebut masih berada dalam batas yang dapat dikelola oleh pengembang. “Ketika kita berbicara biaya logistik, saya rasa kenaikannya nggak sampai 10%,” ujarnya.

Dampak ke Harga Rumah Hanya Sekitar 3,5 Persen

Joko merinci bahwa komponen transportasi hanya memengaruhi sebagian kecil dari total biaya pembangunan rumah. Biaya pembangunan fisik biasanya hanya sekitar 35% dari total harga jual hunian. Kondisi ini berbeda dengan situasi kenaikan harga material bangunan yang sudah meroket lebih dari 50 persen di beberapa wilayah.

“Kalau kita hitung dari biaya harga jual misalkan satu rumah itu kan 35% dari bangunan. Artinya yang naik kan 35% kali 10%, jadi taruhlah 35% plus 3,5%,” jelasnya.

Artinya, meskipun biaya logistik naik hingga 10%, dampaknya terhadap harga jual rumah hanya sekitar 3,5%. Angka ini jauh lebih kecil dari kenaikan yang selama ini dikhawatirkan banyak pihak, termasuk kekhawatiran dampak dolar AS meroket terhadap harga rumah subsidi.

Industri Bahan Bangunan RI Masih Kuat

Selain komponen transportasi yang relatif kecil, Joko menekankan bahwa industri bahan bangunan di Indonesia juga dinilai cukup kuat. Ketergantungan terhadap impor material relatif kecil karena banyak pabrik material seperti semen, keramik, hingga komponen konstruksi telah tersebar di berbagai wilayah.

“Kita masih punya kekayaan sumber daya alam dalam kaitannya material. Itu juga masih relatif support terhadap pertumbuhan ini,” kata Joko.

Dengan kondisi tersebut, REI menilai sektor properti nasional masih memiliki fondasi yang kokoh untuk menghadapi gejolak eksternal. Asalkan fluktuasi harga tidak terjadi secara eksponensial, risiko kenaikan harga rumah masih bisa dikelola oleh para pengembang.

“Selama fluktuasinya tidak sangat eksponensial, kita masih bisa mengelola risiko kenaikan itu masih terkelola juga,” tutupnya.

Related Post

Leave a Comment