Today

Rupiah Anjlok ke Rp18.000, BI Akui Utang Luar Negeri Jadi Biang Kerok Pelemahan

Siti Nurhaliza

Rupiah melemah ke level Rp18.000 per dolar AS

Jakarta — Nilai tukar Rupiah semakin terpuruk di hadapan dolar Amerika Serikat. Pada Kamis (4/6/2026), mata uang Garuda itu merosot ke Rp18.041 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg. Pelemahan ini bukan sekadar angka di layar — dampaknya langsung terasa di lapangan, terutama bagi siapa saja yang sedang merencanakan membangun atau membeli rumah.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan, kejatuhan Rupiah kali ini dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal dan siklus kebutuhan likuiditas musiman di dalam negeri. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas membuat harga minyak tetap tinggi, meningkatkan risiko inflasi global, dan mendorong arus dana keluar dari negara-negara emerging market.

“Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri,” kata Destry dalam keterangan resmi, Kamis (4/6/2026).

Dampak Langsung ke Biaya Bangun Rumah

Bagi masyarakat yang berencana membangun hunian, pelemahan Rupiah memiliki konsekuensi nyata. Sebagian besar material konstruksi — mulai dari besi, semen, hingga keramik — memiliki komponen impor yang signifikan. Ketika Rupiah melemah, harga material tersebut otomatis melambung. Fenomena ini sudah terlihat jelas dalam tren biaya konstruksi yang meroket belakangan ini.

Data dari Asosiasi Pengembang Perumahan Nasional (Apersi) menunjukkan, kenaikan harga material konstruksi akibat pelemahan Rupiah bisa mencapai 10-15 persen dalam hitungan bulan. Artinya, biaya membangun rumah type 36 yang semula Rp150 juta bisa membengkak menjadi Rp170 juta lebih hanya karena fluktuasi nilai tukar.

Bank Indonesia Siap Intervensi

Destry menegaskan, Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas Rupiah. Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen berlapis, termasuk transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya,” tegas Destry. Langkah ini penting untuk menjaga agar dampak dolar yang meroket ke sektor perumahan tidak semakin parah.

Strategi Cerdas di Tengah Pelemahan Rupiah

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan calon pembeli rumah di tengah situasi ini? Pertama, pertimbangkan untuk membeli material bangunan sekarang sebelum harga semakin melambung. Kedua, pilih material lokal berkualitas yang komponen impornya lebih rendah — salah satunya dengan mengikuti tren renovasi hunian 2026 dengan material berkualitas. Ketiga, manfaatkan program subsidi pemerintah seperti FLPP yang suku bunganya masih terkendali.

Pelemahan Rupiah memang menantang, namun dengan perencanaan yang matang, mimpi memiliki rumah tetap bisa diwujudkan. Yang terpenting adalah tetap waspada terhadap pergerakan pasar dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan finansial.

Related Post

Leave a Comment