Jakarta — Nilai tukar rupiah menembus level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat pada Rabu (3/6/2026), menjadi rekor terlemah sepanjang sejarah. Tekanan ini mendorong sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan sikap moneter ketat lebih lama dari perkiraan semula.
Head of Banking Research and Analytics BCA Victor George Petrus Matindas dan Ekonom BCA Samuel Theophilus Artha dalam laporan bulanan “CPI: Slowly creeping up” menyebut inflasi Mei 2026 sudah mencapai 3,08% secara tahunan (YoY) dan 0,28% secara bulanan (MoM). Angka ini melonjak dari 2,42% YoY dan 0,13% MoM pada April.
Inflasi Merambat, Energi Jadi Biang Kerok
Tim ekonom BCA menilai inflasi bulanan yang relatif tinggi mencerminkan dampak dari guncangan harga energi. Dari tiga kelompok utama inflasi, harga yang diatur pemerintah mencatat kenaikan paling tajam sebesar 0,52% MoM, dipicu kenaikan tarif penerbangan dan harga energi nonsubsidi.
“Meskipun sektor transportasi hanya memberikan kontribusi langsung yang terbatas terhadap IHK dengan bobot sekitar 11,9%, kontribusi tidak langsungnya melalui sektor logistik jauh lebih besar, mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan,” ujar tim ekonom BCA.
Dampak kenaikan harga energi tidak hanya tercermin pada tarif transportasi, tetapi merambat ke kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Kombinasi ini menjadi tekanan berlapis bagi daya beli masyarakat.
Rupiah Melemah 6,5% sejak Awal Tahun
Depresiasi tajam nilai tukar rupiah sekitar 6,5% sejak awal tahun berpotensi meningkatkan biaya input produksi lebih lanjut. Produsen terpaksa menaikkan harga jual untuk mempertahankan margin, termasuk di sektor material bangunan dan properti yang sudah tertekan sejak awal tahun.
Per pukul 09.26 WIB, rupiah melemah 0,39% ke level Rp17.900/US$. Level ini sekaligus menjadi all time low terbaru. Setelah menembus Rp17.900, rupiah kini semakin mendekati level psikologis berikutnya di Rp18.000/US$.
BI Dinilai Akan Tambah Kenaikan Suku Bunga
Bank Indonesia sudah terlihat semakin agresif dalam mempertahankan nilai tukar rupiah, tercermin dari imbal hasil SRBI tenor 12 bulan yang mencapai 6,92% pada lelang terakhir. Suku bunga acuan BI saat ini berada di 5,25%.
BCA memproyeksikan adanya kenaikan suku bunga tambahan sebesar 50 basis poin sepanjang tahun 2026. Proyeksi ini sejalan dengan analisis dampak BI Rate terhadap cicilan KPR yang sudah mengkhawatirkan banyak debitur. “Ancaman inflasi yang semakin nyata ini kemungkinan akan memaksa Bank Indonesia untuk mempertahankan sikap kebijakan moneter yang ketat untuk sementara waktu,” kata mereka.
Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, juga mengatakan adanya potensi kenaikan BI-Rate sekali lagi tahun ini karena berbagai masalah inflasi dan tekanan kurs. Namun, skenario dasar tetap memperkirakan BI mempertahankan suku bunga acuan di 5,25%.
Dampak ke Sektor Properti dan Perumahan
Kenaikan suku bunga berdampak langsung ke sektor properti, terutama bagi calon pembeli rumah yang mengandalkan KPR. Suku bunga pinjaman yang lebih tinggi berarti cicilan bulanan membengkak, menambah beban masyarakat yang sudah tertekan kenaikan harga material bangunan.
“Dengan asumsi pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi pada tingkat saat ini, inflasi tahunan diperkirakan mencapai sekitar 2,72% pada akhir tahun 2026. Namun, apabila risiko memburuk, inflasi dapat meningkat lebih tajam sehingga memperbesar kemungkinan Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuannya,” kata Faisal.
Situasi ini menempatkan pengembang properti dalam posisi sulit. Biaya konstruksi yang naik imbas pelemahan rupiah harus dihadapi tanpa kemampuan menaikkan harga jual terlalu tinggi, mengingat daya beli masyarakat sudah tertekan inflasi dan kenaikan suku bunga. Ancaman ini sudah diprediksi sejak dolar AS mulai meroket beberapa pekan lalu.













