Jakarta — BTN Housingpreneur 2025 melahirkan 58 inovator yang memamerkan solusi masa depan bagi sektor perumahan nasional. Dari material limbah hingga kecerdasan buatan untuk mitigasi banjir, para startup dan wirausahawan muda ini menawarkan jawaban atas tantangan struktural yang selama ini membelenggu akses hunian di Indonesia.
Ajang kompetisi yang digagas PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk ini menjaring lebih dari 8.000 pendaftar dari berbagai daerah. Proses seleksi yang ketat akhirnya menyaring 58 finalis terbaik untuk menampilkan karya mereka di BTN Expo 2026. Langkah ini sejalan dengan upaya digitalisasi BTN yang sebelumnya telah berhasil menyalurkan 6 juta rumah subsidi dengan memanfaatkan teknologi.
Material Bangunan dari Sampah Residual
Salah satu inovasi paling menarik datang dari Parongpong Raw Lab, Bandung. Tim ini mengolah sampah residual non-plastik seperti bekas jaring nelayan, ampas kopi, puntung rokok, cangkang kerang, dan karung semen menjadi material bangunan yang bernilai komersial.
“Jadi konsep yang kami angkat adalah waste-to-material. Contohnya, produk kami yang bernama Oriplast berasal dari karung semen, ini bisa menjadi pengganti decking kayu dan mengurangi deforestasi,” jelas Kendan Maranatha, Program Manager Parongpong Raw Lab.
Selain Oriplast, inovator lain juga menghadirkan solusi serupa. Agriya dari Surabaya mengembangkan cat tembok dari sekam padi, sementara Bell Living Lab dari Bandung memanfaatkan limbah kopi untuk menekan biaya konstruksi dan dampak lingkungan.
AI untuk Mitigasi Risiko Banjir
Tak hanya soal material, Geoflood AI dari Palembang menghadirkan teknologi kecerdasan buatan untuk memetakan risiko banjir dan kondisi lahan sejak tahap perencanaan. Dengan data ini, desain hunian dapat disesuaikan dengan karakter wilayah dan risiko iklim masing-masing.
Pendekatan ini menjawab kekhawatiran akan tingginya risiko bencana di kawasan permukiman Indonesia, terutama di wilayah rawan banjir yang selama ini kerap diabaikan dalam perencanaan perumahan. Inovasi teknologi ramah lingkungan seperti ini juga mendukung tren hunian hijau yang mulai diminati masyarakat.
Rent-to-Own: Solusi untuk Gen Z
Di sisi akses kepemilikan, Ontoown dari Bandung menawarkan skema rent-to-own yang memungkinkan masyarakat berpenghasilan terbatas membangun kepemilikan rumah secara gradual. Sistem sewa bulanan ini dirancang khusus untuk generasi muda yang belum memiliki credit history dan uang muka untuk KPR.
“Inovasi kami berasal dari permasalahan bahwa banyak sekali hunian atau aset yang menganggur. Tetapi di sisi lain banyak orang, terutama Gen Z, yang membutuhkan rumah namun pertumbuhan penghasilan mereka tidak lebih cepat daripada pertumbuhan harga rumah,” ungkap Zikra, anggota tim Ontoown.
Skema ini melengkapi berbagai program kemudahan akses hunian yang telah dijalankan pemerintah, termasuk desain rumah modern yang efisien untuk menjaga nilai investasi jangka panjang.
Masa Depan Perumahan Indonesia
Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo menegaskan pentingnya kolaborasi antara inovator, pelaku industri, dan ekosistem pembiayaan perumahan. BTN berkomitmen untuk mencari mitra-mitra baru yang dapat diajak berkolaborasi dan di-scale up melalui program ini.
“Kami menggandeng talenta-talenta muda untuk membangun teknologi dan entrepreneurship di bidang perumahan, karena ekosistem perumahan selalu membutuhkan ide-ide baru,” tutur Setiyo.
Inovasi para finalis tersebut dapat disaksikan langsung oleh masyarakat dalam rangkaian BTN Expo 2026, yang juga menghadirkan pameran properti, peluang karier, UMKM, serta berbagai aktivitas gaya hidup. Program ini ditutup dengan Awarding BTN Housingpreneur 2025 pada Sabtu, 31 Januari 2026 sebagai apresiasi terhadap inovator perumahan terbaik nasional.











