Jakarta — Proyek MRT Lintas Timur-Barat Fase 2 rute Kembangan-Balaraja sepanjang 30 kilometer menjadi magnet baru bagi pengembang properti besar Tanah Air. PT MRT Jakarta Perseroda resmi menandatangani nota kesepahaman dengan tujuh perusahaan properti ternama untuk mengembangkan kawasan Transit Oriented Development (TOD) di sepanjang jalur kereta bawah tanah tersebut.
Ketujuh pengembang yang terlibat dalam kerja sama strategis ini adalah Summarecon Serpong, Alam Sutera Realty, Lippo Karawaci, Paramount Land, Summarecon Tangerang, Intiland Development, dan Metland Cyber Putri. Penandatanganan disaksikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Gubernur Banten Andra Soni.
Kolaborasi Pengembang Swasta Percepat Pembangunan
Gubernur Pramono menjelaskan kolaborasi dengan pengembang swasta menjadi kunci untuk meringankan beban pembiayaan sekaligus mempercepat pengembangan kawasan di sekitar jalur MRT. Pengalaman sukses pengembangan MRT Utara-Selatan bersama institusi internasional dan Kementerian Keuangan akan diterapkan kembali untuk Fase 2. Sayangnya, biaya bangunan yang terus melonjak menjadi dilema tersendiri bagi pengembang properti dalam menentukan harga jual hunian.
“Kami akan melakukan yang sama untuk mengembangkan MRT Fase 2 Kembangan-Balaraja yang akan segera kita persiapkan, kita matangkan, termasuk studinya,” ujar Pramono dalam keterangan tertulisnya.
Studi kelayakan proyek ini ditargetkan rampung tepat waktu sehingga pembangunan fisik dapat dimulai dalam satu hingga dua tahun ke depan. Dengan panjang jalur 30 kilometer, proyek ini akan menghubungkan Jakarta Barat hingga Kota Tangerang di Provinsi Banten.
TOD Jadi Daya Tarik Investasi Properti
Kawasan Transit Oriented Development (TOD) di sekitar stasiun MRT terbukti menjadi magnet investasi properti. Pengembang melihat peluang besar dari integrasi transportasi massal yang akan mengubah pola mobilitas masyarakat Jabodetabek. Hal serupa terlihat dari ambisi KAI yang siap mengubah Manggarai menjadi CBD baru Jakarta dengan rusun cicilan Rp2,9 juta per bulan.
Harga properti di kawasan TOD biasanya mengalami kenaikan signifikan setelah beroperasinya jalur transportasi massal. Bahkan properti di Tegal melesat 30 persen di awal 2026, menunjukkan bahwa kawasan dengan akses transportasi baru selalu diminati investor.
Gubernur Banten Andra Soni menyambut baik kerja sama ini karena integrasi transportasi massal sangat dibutuhkan bagi warga Banten yang mayoritas beraktivitas di Jakarta. “Ini sebagai pembuka jalan untuk cita-cita kita bersama terkait dengan transportasi massal yang terintegrasi,” katanya.
Tren Perpindahan Pencari Rumah ke Kawasan Penyangga
Proyek MRT ini juga memperkuat tren yang sudah berlangsung, di mana Tangerang berhasil menggeser Jakarta Selatan sebagai incaran baru pencari rumah. Dengan hadirnya jalur MRT baru, kawasan Tangerang dan sekitarnya diprediksi semakin diminati.
Progres MRT Utara-Selatan
Sementara itu, Direktur Utama PT MRT Jakarta Perseroda Tuhiyat menjelaskan progres konstruksi MRT Fase Utara-Selatan. Rute Bundaran HI hingga Monas ditargetkan beroperasi tahun depan, sedangkan perpanjangan hingga Kota Tua ditargetkan rampung pada 2029.
Dengan semakin panjangnya jalur MRT yang beroperasi, nilai investasi properti di sekitar stasiun diprediksi terus meningkat. Hal ini menjadikan kawasan TOD sebagai salah satu segmen properti paling menjanjikan di Indonesia.
Para pengembang yang bergabung dalam proyek ini berharap dapat menyediakan hunian terjangkau dan terintegrasi dengan transportasi massal bagi masyarakat, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan penyangga Jakarta.









