Today

Dominasi Boomer di Eropa: Generasi Muda Terancam Tak Bisa Punya Rumah Sendiri

Infografis generasi muda Eropa kesulitan beli rumah karena harga properti melonjak

Jakarta — Di banyak kota besar Eropa, tren yang mengkhawatirkan terjadi: anak-anak muda berusia 30-an tahun masih terpaksa tinggal bersama orang tua. Bukan karena tidak mau mandiri, melainkan harga properti yang sudah di luar jangkauan mereka. Fenomena ini menjadi cerminan betapa kerasnya generasi muda berjuang untuk memiliki hunian sendiri di tengah dominasi generasi baby boomer. Kasus serupa juga terjadi di Indonesia, di mana generasi Z terjebak harga properti yang melambung dan rumah di pusat kota makin tak terjangkau.

Data menunjukkan harga properti di Eropa melonjak sekitar 25% dalam satu dekade terakhir setelah disesuaikan dengan inflasi. Biaya sewa juga tumbuh lebih cepat dibanding kenaikan upah. Akibatnya, hampir seperempat warga Eropa kelahiran 1980-an masih menumpang di rumah orang tua pada usia 30 tahun — angka yang 50% lebih tinggi dibanding generasi dua dekade sebelumnya. Kondisi ini mirip dengan situasi generasi muda Indonesia yang sulit beli rumah di pusat kota karena tanah dikuasai elit dan harga terus melambung.

Ketimpangan Generasi Makin Tajam

Dulu, ketimpangan ekonomi di Eropa lebih mudah dibaca dari peta. Eropa Barat yang kaya berhadapan dengan Eropa Timur yang tertinggal. Namun setelah puluhan tahun transformasi ekonomi, garis pemisah itu bergeser drastis. Ketimpangan kini lebih sering terjadi di dalam satu rumah tangga yang sama — antara orang tua pemilik properti dan anak-anak muda yang hanya bisa bermimpi memilikinya. Di Eropa sendiri, krisis sewa rumah sudah mencapai tingkat darurat dengan harga mencekik hingga 40% gaji pekerja.

Bagi generasi yang membeli rumah puluhan tahun lalu, kenaikan harga properti menjadi sumber kekayaan luar biasa. Anak-anak mereka justru menghadapi realitas berbeda: harga rumah yang melambung, pajak yang memberatkan, dan biaya pensiun yang terus membengkak. Uni Eropa memperkirakan pengeluaran terkait penuaan populasi kini menyerap sekitar seperempat PDB kawasan.

Sistem Pensiun di Ujung Tanduk

Problem utamanya terletak pada struktur demografi. Pada 1960, lebih dari lima pekerja menopang satu pensiunan di Eropa Barat. Kini jumlahnya tinggal sekitar 2,5 pekerja. Sistem dana pensiun yang dibangun saat populasi masih tumbuh kini kehilangan tumpuannya.

Banyak pekerja muda Eropa harus menyiapkan pensiun pribadi sekaligus tetap membiayai sistem yang menopang generasi sebelumnya. Beban ganda ini mempersempit ruang bagi mereka untuk menabung atau mengumpulkan uang muka pembelian rumah.

Politik Juga Berpihak ke Lansia

Dampak demografis tidak berhenti di ranah ekonomi. Dalam pemilu presiden Prancis terakhir, usia median pemilih mencapai 52 tahun. Lansia bukan hanya kelompok terbesar, tetapi juga yang paling rajin memberikan suara. Alhasil, pemerintah lebih mudah melindungi anggaran pensiun daripada memangkasnya. Pendidikan, inovasi, dan investasi jangka panjang justru menjadi sasaran penghematan.

Maxime Sbaihi dari Club Landoy, lembaga riset demografi Prancis, merangkum fenomena ini dengan tajam: “Masa depan demokrasi semakin sering diputuskan oleh pemilih yang tidak punya masa depan.”

Pelajaran untuk Pasar Properti Indonesia

Meskipun konteksnya berbeda, tren di Eropa memberikan peringatan penting bagi pasar properti Indonesia. Ketika harga rumah terus naik sementara daya beli generasi muda stagnan, jurang kepemilikan hunian akan melebar. Program seperti KPR subsidi FLPP dan insentif PPN 0% menjadi krusial untuk mencegah Indonesia mengalami krisis serupa.

Pertanyaannya bukan lagi apakah generasi muda Indonesia akan hidup lebih baik dari orang tua mereka. Pertanyaannya adalah apakah mereka masih bisa mencapai kehidupan yang dulu dianggap normal — termasuk memiliki rumah sendiri.

Related Post

Leave a Comment