Jakarta — PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyiapkan kawasan Stasiun Manggarai sebagai pusat bisnis baru di Jakarta. Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyatakan, pengembangan 62 hektare lahan di sekitar stasiun akan mengusung konsep Transit Oriented Development (TOD) dan menargetkan kawasan tersebut setara Sudirman Central Business District (SCBD).
Presiden Prabowo Langsung Arahkan
Rencana ambisius ini mendapat arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Bobby mengungkapkan, Prabowo meminta agar kawasan Manggarai dilengkapi fasilitas premium berkelas dunia.
“Bapak presiden berpesan agar kawasan ini didesain menjadi CBD Jakarta kedua, dengan convention hall bintang lima, hotel bintang lima, dan kawasan leisure bintang lima,” ujar Bobby.
Proyek Dimulai Juli 2026
Tahap pertama pembangunan akan dilakukan di atas lahan 2,2 hektare dengan tiga tower apartemen di atas lahan seluas 8.000 meter persegi. Tahap kedua menyusul delapan tower di lahan 1,6 hektare. KAI menargetkan konstruksi dimulai Juli hingga Agustus 2026 dengan waktu serah terima unit sekitar 13 bulan.
Unit apartemen yang dibangun memiliki ukuran lebih besar dibanding hunian subsidi pada umumnya, yakni 45 meter persegi hingga 54 meter persegi. Ukuran ini dirancang untuk keluarga-keluarga yang bertumbuh.
BTN Jadi Mitra Pembiayaan
Dalam proyek tahap pertama ini, KAI menggandeng Bank Tabungan Negara (BTN) untuk pembiayaan konstruksi dan kredit pemilikan rumah (KPR). Kolaborasi BUMN ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah serius mendorong pengembangan hunian TOD di kawasan strategis Jakarta.
Konsep TOD sendiri memungkinkan penghuni akses langsung ke transportasi massal tanpa harus menggunakan kendaraan pribadi. Hal ini sejalan dengan tren pengembangan hunian modern yang mengutamakan konektivitas dan efisiensi mobilitas.
Dampak bagi Pasar Properti Jakarta
Pengembangan kawasan Manggarai CBD diprediksi bakal mengerek nilai properti di sekitar stasiun. Harga tanah dan hunian di kawasan tersebut berpotensi naik signifikan seiring realisasi proyek. Para pengembang swasta juga diperkirakan bakal menyusul mengembangkan proyek serupa di kawasan TOD lainnya.
Kebijakan ini menjadi angin segar bagi sektor properti Jakarta yang sempat tertekan akibat kenaikan suku bunga Bank Indonesia. Dengan adanya proyek infrastruktur berskala besar, permintaan hunian di kawasan strategis diproyeksi bakal meningkat pada semester II 2026. Langkah KAI ini juga menjadi penopang stabilitas pasar properti nasional di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.














