Jakarta — Para pengamat properti mulai melontarkan sinyal optimistis terhadap masa depan sektor perumahan di Tanah Air. Seorang ahli properti kenamaan memprediksi bahwa industri ini akan memasuki fase boom besar-besaran dalam dua tahun ke depan, tepatnya pada 2028 mendatang.
Pertumbuhan Ekonomi Jadi Penanda Awal
Prediksi tersebut dilontarkan oleh Panangian Simanungkalit, seorang ahli properti yang kerap menjadi rujukan analisis pasar perumahan nasional. Ia menilai capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal pertama tahun ini menjadi sinyal kuat bahwa bisnis properti akan segera bangkit. Meskipun data terbaru menunjukkan penjualan rumah residensial anjlok 25 persen di kuartal I 2026, para pengamat meyakini ini hanya sementara.
“Perkiraan saya, booming properti itu akan terjadi sekitar dua tahun dari sekarang,” ujar Panangian.
Menurut Panangian, pengalaman historis menunjukkan pola yang konsisten: lonjakan harga komoditas global selalu diikuti oleh rally di sektor properti. Meskipun saat ini masih ada tantangan geopolitik yang mendorong kenaikan harga minyak dan emas, ia memproyeksikan kondisi ekonomi akan mulai stabil dalam satu hingga dua bulan ke depan.
Siklus Komoditas dan Stabilitas Rupiah
“Setelah rupiah stabil, emas dan komoditas mencapai puncak lalu melandai, maka giliran properti yang akan naik. Properti akan mengikuti tren stabilitas tersebut,” jelasnya.
Panangian mengimbau masyarakat untuk tidak menunda investasi di sektor properti. Menurutnya, waktu paling strategis untuk masuk adalah ketika banyak orang masih ragu-ragu. Jika pasar sudah terlihat benar-benar bangkit, harga properti dipastikan sudah melambung dan momentumnya terlambat.
Insentif PPN DTP Perkuat Optimisme
Selain faktor siklus ekonomi, sektor properti juga mendapat angin segar dari kebijakan fiskal pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah memutuskan untuk memperpanjang fasilitas Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 100 persen hingga akhir 2027 mendatang. Kebijakan ini menyasar sekitar 40 ribu unit properti setiap tahunnya.
Langkah tersebut diambil untuk menjaga daya beli masyarakat kelas menengah sekaligus mengoptimalkan efek berganda dari sektor properti terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Di sisi lain, indeks properti di beberapa daerah seperti Balikpapan mulai membaik berkat dukungan infrastruktur dan kebijakan pemerintah.
Dengan perpanjangan insentif pajak dan prediksi siklus ekonomi yang mendukung, dua tahun ke depan dinilai menjadi periode krusial bagi pertumbuhan aset properti di tanah air. Bagi para calon pembeli rumah, momen ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk mulai menyusun rencana sebelum harga benar-benar meroket.
Namun demikian, kenaikan suku bunga BI yang sempat menekan sektor properti dan konstruksi menjadi catatan penting bagi calon pembeli. Kenaikan suku bunga acuan akan berdampak langsung pada besaran cicilan KPR yang harus ditanggung masyarakat.












