Saturday, 30 May 2026

Rumah di Sleman Terbakar 51 Kali, Gas Metana dari Septic Tank Jadi Penyebab Utama

Rumah di Margomulyo Sleman terbakar 51 kali akibat akumulasi gas metana dari septic tank

Jakarta — Sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, mengalami kejadian luar biasa. Dalam kurun waktu seminggu, rumah tersebut terbakar sebanyak 51 kali secara misterius. Api muncul dari titik-titik sporadis di berbagai bagian rumah, membakar benda apa pun yang terbuat dari kain, gabus, plastik, hingga kayu.

Kepala Dinas PUPESDM DIY Anna Rina Herbranti membenarkan bahwa kebakaran misterius ini memiliki penjelasan ilmiah. “Fenomena munculnya titik api sporadis dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor lingkungan, keberadaan material mudah terbakar, kemungkinan akumulasi gas organik dalam skala lokal, maupun faktor teknis non-geologi,” ujarnya pada Sabtu (30/5).

Akumulasi Gas Metana dari Septic Tank

Tim investigasi dari Dinas PUPESDM DIY menemukan bahwa akumulasi gas metana dari septic tank menjadi penyebab utama kebakaran tersebut. Tanah di wilayah Seyegan didominasi endapan vulkanik muda seperti pasir, lempung, dan abu vulkanik yang bersifat porous. Kondisi ini memungkinkan gas dari septic tank merembes ke permukaan melalui pori-pori atau rekahan tanah.

“Ketika ada rekahan kecil atau lapisan urug yang kurang padat, gas lebih mudah naik ke permukaan,” jelas Anna. Dinas PUP ESDM DIY terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan BPBD Sleman serta PLN. Hingga saat ini, masih terdapat dua titik api yang aktif.

Bukti Ilmiah dari Tim UGM

Dosen Departemen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Sarju Winardi memastikan bahwa pihak kepolisian sudah mengukur kandungan gas di lokasi kejadian. Hasil pengukuran menunjukkan adanya kandungan gas metana di tempat munculnya titik api.

“Jadi, evidence-based yang paling kuat selama ini api berindikasi dengan keluarnya gas metana,” kata Sarju. Timnya juga menggunakan kamera termal untuk mengukur suhu panas di lokasi. Hasilnya, tempat keluarnya api memiliki suhu yang lebih tinggi dibandingkan area sekitarnya.

Sarju menjelaskan bahwa gas metana memiliki sifat mirip kompor LPG, namun dengan tingkat pelepasan yang lebih rendah. “Gas metana berkumpul di sofa, pakaian, dan kain dalam jumlah waktu yang cukup, dia baru menyala. Tapi kalau sedikit, belum,” ungkapnya.

Rekomendasi untuk Warga

Tim UGM merekomendasikan beberapa langkah pencegahan bagi warga di sekitar lokasi. Pertama, sirkulasi udara di dalam rumah harus diperbaiki dengan membuka jendela atau pintu. Kedua, pemasangan kipas angin atau blower dapat membantu mengurangi konsentrasi gas metana di dalam ruangan.

“Benda-benda yang memiliki pori seperti pakaian, sofa bisa menyimpan gas. Nanti ketika jumlahnya cukup banyak dan terkena oksigen bisa menyala karena sifat gas itu jumlahnya tertentu dan kena oksigen O2, CH4 plus O2 maka akan menyala,” jelas Sarju.

Selain itu, gas metana juga bisa menyebar ke rumah tetangga di sekitarnya. Namun, apabila gas sudah berada di luar ruangan dan bercampur dengan udara, kadarnya akan menurun sehingga relatif aman. Tim UGM juga berencana mengukur sampel air untuk memastikan apakah sumber air di lokasi terkontaminasi metana atau tidak.

Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi pemilik rumah untuk memperhatikan kondisi septic tank dan sirkulasi udara di dalam hunian. Dengan ventilasi yang baik, potensi akumulasi gas berbahaya dapat diminimalisir. Untuk tips menjaga rumah tetap awet dan bernilai tinggi, Anda bisa membaca Rahasia Rumah Modern Bisa Awet dan Bernilai Tinggi.

Pemerintah daerah juga terus berupaya meningkatkan keselamatan hunian bagi warganya. Baca juga tentang kebijakan Pemprov DKI terkait PBB-P2 untuk rumah tapak dan rusun. Sementara itu, tantangan di sektor properti nasional semakin kompleks, terutama bagi pengembang yang menghadapi dilema biaya bangunan melonjak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *