Saturday, 30 May 2026

Harga Minyak Dunia Meroket ke US$96, Serangan AS-Iran Picu Kekhawatiran Selat Hormuz

Harga minyak dunia melonjak akibat konflik AS-Iran di Selat Hormuz

Jakarta — Harga minyak dunia melonjak tajam setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke fasilitas militer Iran. Kekhawatiran terhadap terganggunya jalur pengiriman komersial melalui Selat Hormuz mendorong Brent tembus US$96,28 per barel pada perdagangan Kamis (28/5/2026).

Serangan AS menargetkan pangkalan udara Iran sekitar pukul 04.50 waktu setempat. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membalas dengan menyerang pangkalan udara AS, meski tidak merinci lokasi pastinya. Eskalasi ini memicu rally harga komoditas energi di seluruh pasar global.

Selat Hormuz Jadi Pemicu Utama Lonjakan

Minyak Brent naik sekitar 2% ke US$96,28 per barel. Sementara itu, minyak sempat anjlok hampir 17% dalam dua pekan sebelumnya ketika harapan gencatan senjata menguat. West Texas Intermediate (WTI) juga menguat serupa ke level US$90,75 per barel.

Pejabat AS menyebut pihaknya berhasil mencegat dan menembak jatuh beberapa drone Iran. Namun, situasi di lapangan tetap tegang karena Selat Hormuz merupakan jalur lalu lintas minyak terpadat di dunia. Sekitar 20% pasokan global melewati selat sempit tersebut.

Gencatan Senjata Rapuh Terancam Runtuh

AS dan Iran sebelumnya menyepakati gencatan senjata 60 hari pada April lalu. Namun, kesepakatan itu masih rapuh. Televisi pemerintah Iran mengklaim Teheran telah menyepakati draft nota kesepahaman untuk membuka kembali jalur pelayaran komersial di Hormuz.

Gedung Putih membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai fabrikasi. Presiden Donald Trump menegaskan tidak ada pihak yang akan menguasai Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyampaikan pembicaraan dengan Iran menunjukkan kemajuan.

Harga Minyak Sebenarnya Sudah Turun 10% Sejak Mei

Meski melonjak pada sesi terbaru, harga minyak sebenarnya telah turun lebih dari 10% sejak 18 Mei 2026. Penurunan terjadi setelah Trump menunda serangan militer besar untuk memberi ruang negosiasi. Namun, serangan terbaru mengubah dinamika pasar secara signifikan.

Mantan penasihat energi senior Presiden Joe Biden, Amos Hochstein, menyatakan banyak pemimpin di Timur Tengah percaya Iran secara efektif telah menguasai Selat Hormuz. Persepsi itu tetap bertahan terlepas dari isi kesepakatan yang sedang dinegosiasikan.

Citigroup Peringatkan Risiko Inflasi Global

Citigroup menilai pasar minyak mulai menemukan pijakan yang lebih stabil karena investor mengurangi kekhawatiran skenario terburuk. Namun, bank sentral global tetap waspada terhadap risiko inflasi akibat lonjakan harga energi.

Citi memperingatkan kenaikan harga minyak berkepanjangan mulai menimbulkan tekanan inflasi yang lebih luas. Kondisi ini dapat mendorong sejumlah bank sentral mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat. Bank Indonesia sendiri sempat angkat bicara saat Rupiah nyaris tembus Rp17.900 per Dolar AS, menunjukkan tekanan eksternal sudah dirasakan langsung oleh domestik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *