Jakarta — Harga cabai merah keriting dan cabai rawit merah terus merangkak naik menjelang Hari Raya Iduladha 2026 yang jatuh pada 27 Mei. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kedua komoditas ini menjadi biang keladi inflasi saat momentum kurban setiap tahunnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengungkapkan pola inflasi Iduladha dari tahun ke tahun menunjukkan tren yang konsisten. Dari 2022 hingga 2025, momen kurban selalu mengalami inflasi kecuali di tahun 2024 yang justru mencatat deflasi.
Cabai Rawit dan Merah Jadi Penyumbang Utama
Pudji menjelaskan kelompok komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan harga saat Iduladha adalah makanan, minuman, dan tembakau. Di antara ketiganya, cabai merah dan cabai rawit menempati posisi paling vokal sebagai pemicu inflasi.
“Menurut komoditas, andil inflasi secara umum, penyumbang di momen Iduladha cenderung dari komoditas komponen harga bergejolak,” ungkap Pudji dalam Rakor Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 yang disiarkan lewat YouTube Kemendagri, Senin (25/5/2026).
“Dan di antaranya, komoditas yang sering mendorong terjadinya inflasi di Hari Raya Iduladha adalah cabai rawit dan cabai merah,” kata Pudji.
Harga Cabai Merangkak Naik di Akhir Mei
Data dari Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan memperkuat kekhawatiran tersebut. Pada Jumat (22/5/2026), harga cabai merah keriting naik 0,68% menjadi Rp46.942 per kg dari hari sebelumnya Rp46.624 per kg.
Harga cabai rawit merah bahkan melonjak lebih tajam sebesar 1,28% menjadi Rp67.518 per kg dari Rp66.663 per kg pada hari yang sama. Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan lonjakan permintaan menjelang hari raya kurban. Kondisi tekanan harga pangan ini sejalan dengan tren harga minyak dunia yang meroket ke US$96 per barel akibat ketegangan geopolitik.
Inflasi Iduladha Lebih Rendah dari Lebaran, tapi Tetap Waspada
Pudji menegaskan bahwa tingkat inflasi saat Iduladha secara historis lebih rendah dibanding momentum Ramadan dan Idulfitri. Pengecualian hanya terjadi pada 2022 ketika inflasi kurban justru melampaui angka Lebaran.
“Sejak tahun 2022 hingga 2025, tingkat inflasi di momen Hari Raya Iduladha biasanya lebih rendah dibandingkan inflasi yang terjadi di momen Ramadan maupun di momen Hari Raya Idulfitri,” kata Pudji.
Komponen harga bergejolak menyumbang andil inflasi terbesar pada momen Iduladha tahun 2022 dan 2025. Pola ini mengindikasikan bahwa fluktuasi harga pangan fresh menjadi ancaman utama yang perlu diwaspadai pemerintah daerah. Tekanan inflasi pangan ini menjadi tantangan tersendiri di tengah pelemahan rupiah yang memukul sektor manufaktur dan menambah beban daya beli masyarakat.
Strategi Pengendalian Inflasi Daerah Diperkuat
Pemerintah melalui Kemendagri menggelar Rakor Pengendalian Inflasi Daerah 2026 untuk memastikan setiap daerah memiliki strategi antisipasi. Koordinasi antara BPS, Kemendag, dan pemerintah daerah menjadi kunci menjaga stabilitas harga pangan strategis.
Data historis inflasi Iduladha dari BPS menunjukkan bahwa setiap kenaikan harga cabai berkontribusi signifikan terhadap angka inflasi nasional. Fenomena ini menjadi tantangan berulang yang harus dipecahkan melalui kebijakan hilirisasi dan stabilisasi pasokan.
Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk membuktikan efektivitas program pengendalian inflasi pangan, terutama saat permintaan cabai dan daging sapi melonjak bersamaan di musim kurban. Di sisi lain, kebijakan insentif PPN DTP 100% yang berlanjut di 2026 menunjukkan pemerintah berusaha menjaga daya beli masyarakat meski tekanan inflasi terus mengintai.











