Saturday, 30 May 2026

Harga Properti Eropa Meroket 25%, Gen Z Terpaksa Tinggal Bersama Orang Tua hingga Usia 30

Ilustrasi generasi muda Eropa kesulitan membeli rumah akibat krisis properti dan ketimpangan antar generasi

Jakarta — Di banyak kota besar Eropa, tren yang mengejutkan terjadi: generasi muda berusia 30-an tahun masih tinggal bersama orang tua. Bukan karena pilihan, melainkan karena membeli rumah sendiri kini menjadi mimpi yang semakin sulit diwujudkan.

Data menunjukkan harga properti di Eropa telah melonjak sekitar 25% dalam satu dekade terakhir setelah disesuaikan dengan inflasi. Sementara itu, biaya sewa tumbuh jauh lebih cepat dibanding kenaikan upah. Kondisi ini menciptakan jurang lebar antara generasi yang sudah memiliki aset dan mereka yang baru memasuki pasar kerja. Fenomena serupa juga terasa di Indonesia, di mana kelas menengah semakin terhimpit akibat kenaikan harga rumah dan pelemahan rupiah.

Separuh Warga Eropa Lahir 1980-an Masih Numpang Hidup

Hampir seperempat warga Eropa yang lahir pada 1980-an masih tinggal bersama orang tua pada usia 30 tahun. Angka ini sekitar 50% lebih tinggi dibanding generasi yang lahir dua dekade sebelumnya. Kepemilikan rumah, yang dulu menjadi pintu masuk menuju kemandirian finansial, kini bagi banyak orang hanya bisa diharapkan melalui warisan.

“Ketimpangan tidak lagi hanya soal kaya dan miskin. Semakin sering, ia juga soal tua dan muda,” demikian analisis yang menggambarkan pergeseran dramatis dalam struktur sosial benua biru. Di Indonesia, tren serupa terlihat ketika Gen Z ramai-ramai incar rumah bekas karena harga lebih terjangkau.

Sistem Pensiun di Ujung Tanduk

Pada 1960, lebih dari lima pekerja menopang satu pensiunan di Eropa Barat. Kini jumlahnya tinggal sekitar 2,5 pekerja. Dengan angka kelahiran yang terus turun dan populasi yang semakin tua, beban finansial jatuh pundak generasi muda yang harus menyiapkan pensiun sendiri sekaligus membiayai sistem yang menopang generasi sebelumnya.

Pengeluaran terkait penuaan penduduk kini menyerap sekitar seperempat PDB kawasan Eropa. Angka ini diproyeksikan terus meningkat seiring waktu, semakin mempersempit ruang bagi pemerintah untuk berinvestasi di pendidikan, inovasi, dan perumahan.

Demografi Mengubah Politik

Dampaknya tidak terbatas pada ekonomi. Dalam pemilu presiden Prancis terakhir, usia median pemilih mencapai 52 tahun. Lansia bukan hanya kelompok yang semakin besar, tetapi juga yang paling rajin datang ke tempat pemungutan suara.

Maxime Sbaihi dari Club Landoy, lembaga riset demografi Prancis, merangkum fenomena ini dalam satu kalimat tajam: “The future of democracy is increasingly decided by voters who don’t have one.”

Kondisi ini membuat pemerintah lebih mudah melindungi anggaran pensiun daripada memangkasnya. Sebaliknya, program perumahan untuk generasi muda dan investasi jangka panjang sering menjadi sasaran penghematan.

Pelajaran untuk Indonesia

Krisis properti Eropa memberikan gambaran penting bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia. Ketika harga rumah terus merangkak naik sementara daya beli masyarakat stagnan, jurang kepemilikan hunian bisa melebar dan menciptakan masalah sosial jangka panjang. Penjualan rumah tipe kecil anjlok 45 persen di awal 2026 menjadi bukti nyata tekanan pada segmen terjangkau.

Program subsidi perumahan seperti FLPP menjadi krusial untuk menjaga akses masyarakat berpenghasilin rendah terhadap hunian layak. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, Indonesia berisiko mengalami pola serupa di mana generasi muda terpinggirkan dari pasar properti.

Pertanyaannya bukan lagi apakah generasi muda akan hidup lebih baik dari orang tua mereka. Pertanyaannya adalah apakah mereka masih bisa mencapai kehidupan yang dulu dianggap normal: memiliki rumah sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *