Today

Penjualan Rumah Anjlok, Pengembang Minta Pemerintah Perpanjang Insentif PPN DTP

Dewi Anggraeni

Penjualan rumah anjlok pengembang minta perpanjangan insentif PPN DTP 2026

Jakarta — Penjualan rumah tapak di Indonesia kembali mencatat penurunan signifikan di awal semester II-2026. Data dari berbagai konsultan properti menunjukkan angka transaksi properti residensial terkoreksi tajam, memaksa pengembang besar mencari jalan keluar agar Program 3 Juta Rumah pemerintah tidak mandek di tengah jalan.

Daya Beli Masyarakat Semakin Tergerus

Kondisi ini tidak terlepas dari tekanan inflasi biaya konstruksi yang terus merangkak naik. Harga semen, baja ringan, hingga pasir mengalami kenaikan berulang kali sejak awal tahun. Di saat bersamaan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat material impor untuk hunian modern semakin mahal.

Ketua Umum DPP REI, Singgih Wanady, secara terbuka meminta pemerintah segera mengambil langkah strategis. Ia menilai program insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah atau PPN DTP yang selama ini menjadi penopang penjualan hunian harus diperpanjang dan diperluas cakupannya.

PPN DTP Jadi Penyelamat Sektor Properti

Insentif PPN DTP sebesar 100 persen untuk pembelian rumah tapak baru telah terbukti menjadi stimulan efektif sejak pertama kali digulirkan. Dampaknya terhadap serapan rumah subsidi maupun komersial menengah sangat terasa, terutama bagi calon pembeli dari segmen masyarakat berpenghasilan rendah atau MBR.

“Kami berharap pemerintah tidak menghentikan insentif ini. Apalagi target Program 3 Juta Rumah masih jauh dari capaian. Tanpa dorongan kebijakan pajak yang pro-rakyat, realisasi hunian layak akan semakin tertunda,” tegas Singgih dalam keterangan resminya.

Suku Bunga KPR Juga Jadi Faktor Penentu

Selain aspek perpajakan, suku bunga Kredit Pemilikan Rumah atau KPR turut menjadi variabel krusial yang menentukan keputusan calon pembeli. Bank Indonesia telah beberapa kali menyesuaikan tingkat suku bunga acuan sepanjang 2026, namun dampaknya terhadap suku bunga kredit pemilikan rumah masih belum terasa maksimal di tingkat konsumen.

Sejumlah bank pelat merah dan bank swasta mulai menawarkan skema KPR dengan bunga kompetitif, mulai dari 4,75 persen hingga 5 persen fixed untuk jangka waktu tertentu. Langkah ini diharapkan bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat untuk mengambil keputusan membeli hunian baru di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Developer Beralih ke Strategi Baru

Tekanan di pasar primer mendorong banyak pengembang untuk berinovasi. Beberapa strategi yang mulai digencarkan antara lain bundling KPR dengan renovasi gratis, program uang muka nol persen, hingga skema cicilan ringan khusus bagi first home buyer.

Selain itu, tren hunian compact atau rumah multifungsi dengan luas efisien namun tetap estetis makin diminati. Konsep desain minimalis yang mengutamakan fungsi ruang fleksibel menjadi andalan pengembang untuk menarik minat generasi milenial dan Gen Z yang menginginkan hunian terjangkau tanpa mengorbankan kenyamanan.

Pasar Properti Sekunder Jadi Alternatif

Dalam kondisi penjualan properti baru yang melambat, pasar properti sekunder atau rumah bekas mulai menarik perhatian. Bank Tabungan Negara atau BTN bahkan telah meluncurkan program lelang akbar yang menawarkan ribuan unit hunian bekas dengan harga di bawah pasar, lengkap dengan opsi pembiayaan KPR bunga ringan.

Langkah ini dinilai realistis karena lokasi properti bekas umumnya sudah terbentuk lingkungan huniannya, dilengkapi infrastruktur dan fasilitas publik yang memadai. Calon pembeli tidak perlu menunggu bertahun-tahun untuk bisa menempati rumah impian mereka.

Prospek Jangka Panjang Masih Cerah

Meski tantangan di semester II-2026 terasa berat, para pelaku industri optimistis bahwa fundamental pasar properti Indonesia masih solid. Pertumbuhan populasi, urbanisasi yang terus berlanjut, serta kebutuhan hunian yang belum terpenuhi menjadi fondasi kuat bagi pemulihan sektor ini.

Kunci utamanya terletak pada sinergi kebijakan pemerintah, kebijakan moneter yang kondusif, dan keberanian pengembang untuk berinovasi dalam hal desain, harga, serta skema pembiayaan. Jika ketiga pilar ini bisa berjalan seiring, harapan untuk mewujudkan hunian layak bagi jutaan keluarga Indonesia bukan sekadar angan-angan belaka.

Related Post

Leave a Comment