Jakarta — Harga tanah di Jakarta terus meroket hingga mencapai level yang nyaris tak terbayangkan. Fenomena ini terjadi tak hanya di kawasan dalam negeri, tren serupa juga terjadi di kawasan Eropa yang mengalami kenaikan harga properti ekstrem. Di Jakarta sendiri, kawasan SCBD (Sudirman Central Business District) kini menempati posisi sebagai wilayah dengan harga tanah tertinggi di ibu kota, menggeser Menteng yang selama ini dikenal sebagai kawasan elit berharga selangit.
Martin Hutapea, Associate Director Research and Consultancy Department PT Leads Property Services Indonesia, membeberkan data terbaru soal harga tanah di berbagai kawasan strategis Jakarta. Hasilnya, SCBD memuncaki daftar dengan kisaran harga Rp 200-300 juta per meter persegi.
SCBD Kalahkan Menteng dalam Harga Tanah
Selama ini, Menteng di Jakarta Pusat kerap dianggap sebagai kawasan termahal di Jakarta. Namun data terbaru membuktikan anggapan itu keliru. Kawasan Menteng memiliki kisaran harga Rp 70-100 juta per meter persegi karena masih berdekatan dengan kawasan bisnis Sudirman.
“Menteng karena masih dekat kawasan bisnis Rp 70-100 juta per meter persegi, Pondok Indah lebih murah di Rp 40-60 juta per meter persegi,” ujar Martin dalam Media Briefing Leads Property, Minggu (24/5/2026).
Sementara itu, kawasan Sudirman secara umum mencatat kisaran harga Rp 180-200 juta per meter persegi. Angka ini sudah dua kali lipat lebih tinggi dibanding harga tanah di Menteng.
Sudirman Central Business District Jadi Mahkota Harga Tanah
Semakin mendekati pusat kota, semakin mahal pula harga tanahnya. SCBD yang merupakan jantung bisnis Indonesia menempatkan dirinya sebagai kawasan paling mahal di seluruh Jakarta. Kondisi ini semakin memperkuat argumen Wamen PKP Fahri Hamzah bahwa Indonesia harus beralih ke hunian vertikal karena lahan tapak semakin terbatas dan mahal.
“Paling mahal ya di SCBD nilainya sekitar Rp 200-300 juta per meter persegi. Itu nilai, ya, artinya perkiraan, setelah transaksi bisa berubah,” sebut Martin.
Kisaran harga ini menjadikan SCBD sebagai kawasan dengan nilai properti paling tinggi di Indonesia. Untuk membeli sepetak tanah seluas 100 meter persegi di SCBD, seseorang harus merogoh kocek minimal Rp 20 miliar.
Faktor Pendorong Harga Tanah Melonjak
Beberapa faktor utama mendorong harga tanah di kawasan SCBD terus melambung. Pertama, keterbatasan lahan kosong di kawasan premium Jakarta. Kedua, tingginya permintaan dari korporasi multinasional yang ingin memiliki kantor strategis di jantung bisnis ibu kota. Ketiga, potensi pengembangan mixed-use yang terus diminati investor besar.
Kombinasi faktor-faktor ini membuat harga tanah di SCBD sulit untuk turun dalam waktu dekat. Ditambah lagi dengan biaya konstruksi yang terus naik, termasuk kenaikan harga semen, tekanan terhadap harga hunian di kawasan sekitarnya semakin besar.
Masyarakat berpenghasilan menengah semakin terpinggirkan dan terpaksa mencari alternatif hunian di pinggiran kota. Kondisi ini memperkuat tren pergeseran pusat aktivitas ekonomi ke kawasan suburban seperti Bekasi, Tangerang, dan Depok yang menawarkan harga lebih terjangkau.











