Friday, 29 May 2026

Pasar Cipulir Makin Sepi: Pedagang Textile Jakarta Selatan Keluhkan Omzet Anjlok 40 Persen

Pedagang Pasar Cipulir Jakarta Selatan resah karena pembeli semakin berkurang

Jakarta — Suasana Pasar Cipulir, Jakarta Selatan, tidak lagi seperti yang dikenal masyarakat selama ini. Pasar tekstil legendaris yang dulu menjadi magnet pembeli dari berbagai daerah itu kini berubah drastis — jalanan yang semula dipenuhi parkir motor hingga macet, kini terlihat lengang dan sepi.

Sejumlah pedagang mengeluhkan penurunan omzet hingga 40% sejak masa pandemi berlalu. Kondisi ini diperparah oleh banjir rutin yang kerap menerjang pasar saat musim hujan, sehingga barang dagangan tidak hanya sepi pembeli tetapi juga terancam rusak. Pergeseran ini terjadi di tengah badai PHK yang masih mengancam 20 ribu pekerja di semester II 2026, memperketat tekanan terhadap daya beli masyarakat.

Pembeli Menghilang, Omzet Tergerus Habis

Cece, salah satu pedagang pakaian remaja di pasar tersebut, menceritakan kondisi yang semakin berat. Ia membenarkan bahwa pasar mulai kehilangan pamor sejak 2023, tepatnya setelah pandemi Covid-19 resmi berakhir.

“Makin ke sini, makin terlihat jelas sepinya, kondisi makin berat, penghasilan terus tergerus,” ungkap Cece, Jumat (29/5/2026).

Situasi serupa dialami Yono, pedagang pakaian anak-anak. Bahkan momentum Lebaran yang biasanya menjadi periode penjualan terbaik tahun ini tidak memberikan dampak signifikan.

“Lebaran kemarin saja kami tidak merasakan momentumnya, biasanya kan Lebaran yang kami tunggu-tunggu karena biasanya lebih ramai, ini justru sepi,” kata Yono.

Sepekan Hanya Laku Lima Buah

Situasi lebih parah dialami Susi, pedagang celana pendek. Dalam sepekan terakhir, ia hanya berhasil menjual lima potong celana — angka yang jauh dari kata cukup untuk menutupi biaya operasional dan sewa tempat.

“Kondisi sekarang bukan sulit lagi, tapi sudah enggak bisa dibuat kata-kata, ini aja dari Senin lalu sampai hari ini (Kamis), baru laku 5 celana,” ujar Susi.

Idris, pedagang pakaian dewasa, menambahkan bahwa tekanan biaya sewa tetap berjalan meskipun pendapatan merosot tajam. Kondisi ini menciptakan jurang yang semakin lebar antara pengeluaran tetap dan pemasukan yang menyusut. Kerentanan ekonomi yang dirasakan pedagang pasar ini memiliki kesamaan pola dengan nasib petani sawit yang juga menghadapi anjloknya harga TBS hingga 50 persen.

“Rasanya mau meringis kalau setiap hari begini, pembeli makin berkurang, penghasilan seret banget, tapi bayar sewa lanjut,” kata Idris.

Pasar Tradisional Terancam Tergerus Zaman

Fenomena di Pasar Cipulir menjadi cerminan lebih luas tentang tantangan yang dihadapi pasar tradisional di tengah pergeseran pola konsumsi masyarakat. Kebiasaan belanja yang berpindah ke platform digital, ditambah daya beli yang melambat, membuat pedagang konvensional berada dalam posisi semakin terjepit.

Kondisi ini tentu menjadi pertanyaan besar tentang arah kebijakan ekonomi kerakyatan. Pemerintah sebelumnya telah menggelar paket stimulus ekonomi Rp7,8 triliun untuk kuartal II 2026, namun efektivitasnya terhadap pemulihan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah masih menjadi pertanyaan. Apakah pasar tradisional masih memiliki tempat di tengah gempuran modernisasi, atau justru perlahan ditelan waktu tanpa solusi konkret dari pemerintah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *