Friday, 29 May 2026

Penjualan Rumah di RI Anjlok 25 Persen, Rumah Tipe Kecil Paling Terpukul

Ilustrasi rumah tapak residensial Indonesia

Jakarta — Pasar properti residensial Indonesia mengalami perlambatan tajam pada triwulan pertama 2026. Data Bank Indonesia menunjukkan penjualan rumah di pasar primer anjlok 25,67 persen secara tahunan, berbalik arah dari pertumbuhan 7,83 persen yang tercatat di akhir 2025.

Survei Harga Properti Residensial (SHPR) triwulan I 2026 mengungkap angka yang mencemaskan bagi pelaku industri properti. Penurunan terjadi merata di hampir seluruh segmen, dengan rumah tipe kecil mengalami kontraksi paling dalam. Kondisi ini semakin memperkuat tren yang sudah terlihat sebelumnya, di mana kenaikan cicilan KPR akibat kebijakan BI Rate memberikan tekanan tambahan bagi daya beli masyarakat.

Rumah Tipe Kecil Paling Terpukul

Segmen rumah tipe kecil terkontraksi hingga 45,59 persen year on year, jauh berbeda dari pertumbuhan 17,32 persen yang sempat tercatat di akhir 2025. Penurunan ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah semakin tertekan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Rumah tipe besar juga masih mencatat penurunan sebesar 8,03 persen year on year, meski membaik dibandingkan kontraksi 10,95 persen pada triwulan sebelumnya. Sementara itu, rumah tipe menengah menjadi satu-satunya segmen yang masih tumbuh, yakni 8,28 persen year on year setelah sempat terkontraksi 4,84 persen.

Secara quarter to quarter, penjualan rumah secara keseluruhan turun 7,69 persen. Penurunan terdalam terjadi pada rumah tipe besar yang terkontraksi 20,38 persen. Situasi ini berbeda jauh dari tren di mana memilih beli rumah jadi atau bangun sendiri masih menjadi pertimbangan utama calon pembeli.

Harga Rumah Melambat di 10 Kota

Pertumbuhan harga properti juga menunjukkan tren perlambatan. Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) triwulan I 2026 hanya tumbuh 0,62 persen year on year, lebih rendah dari 0,83 persen di triwulan sebelumnya.

Dari 18 kota yang disurvei, 10 kota mengalami perlambatan pertumbuhan harga rumah. Tiga kota bahkan mencatat penurunan harga secara tahunan. Surabaya menjadi kota dengan kontraksi terdalam, di mana harga rumah turun 0,27 persen year on year.

Di sisi lain, Padang dan Balikpapan justru mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi. Harga rumah di Padang naik 1,21 persen year on year, sementara Balikpapan tumbuh 1,44 persen year on year.

Tiga Hambatan Utama Pengembang

Bank Indonesia mengidentifikasi tiga hambatan utama yang dihadapi pelaku industri properti. Kenaikan harga bahan bangunan menjadi tantangan terbesar dengan porsi 20,97 persen, diikuti masalah perizinan dan birokrasi sebesar 18,15 persen, serta suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar 16,47 persen.

Dari sisi pembiayaan, mayoritas pengembang masih mengandalkan dana internal perusahaan dengan pangsa mencapai 80,66 persen dari total kebutuhan pembiayaan. Konsumen sendiri masih dominan membeli rumah melalui skema KPR dengan porsi 69,87 persen dari total transaksi pembelian rumah primer. Angka ini mengkonfirmasi bahwa KPR tetap menjadi jalur utama masyarakat untuk memiliki hunian, sejalan dengan data yang menunjukkan bahwa jutaan ASN di Indonesia masih belum memiliki rumah sendiri.

Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa sektor properti belum sepenuhnya pulih dari tekanan yang berkepanjangan. Bagi calon pembeli rumah, situasi ini bisa menjadi peluang sekaligus tantangan — harga yang melambat memberi ruang negosiasi, namun akses pembiayaan yang masih mahal menjadi hambatan nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *