Jakarta — Penjualan rumah di Indonesia terjun bebas pada triwulan I 2026. Bank Indonesia mencatat angka penjualan di pasar primer merosot 25,67 persen secara tahunan, berbalik arah drastis dari pertumbuhan 7,83 persen yang tercatat di akhir 2025.
Data dari Survei Harga Properti Residensial (SHPR) BI mengungkap sektor hunian sedang menghadapi tekanan bertubi-tubi. Harga bahan bangunan yang terus merangkak naik menjadi tantangan terbesar dengan porsi 20,97 persen, diikuti perizinan dan birokrasi sebesar 18,15 persen, serta suku bunga KPR yang masih tinggi di angka 16,47 persen. Kondisi ini sejalan dengan temuan bahwa 306 proyek properti senilai Rp 34,5 triliun mandek akibat perizinan yang berbelit.
Rumah Tipe Kecil Paling Terpukul
Segmen yang mengalami kontraksi paling dalam adalah rumah tipe kecil. Penjualan kelompok ini anjlok hingga 45,59 persen year on year setelah sebelumnya tumbuh 17,32 persen di akhir 2025. Angka ini menunjukkan kalangan MBR yang selama ini menjadi penopang utama pasar properti mulai mundur perlahan.
Rumah tipe besar juga masih terkontraksi 8,03 persen year on year meski membaik dari catatan minus 10,95 persen di triwulan sebelumnya. Satu-satunya segmen yang masih bertahan adalah rumah tipe menengah yang justru tumbuh 8,28 persen year on year setelah sempat terpuruk minus 4,84 persen.
Harga Rumah Terbatas, Daya Beli Menurun
Situasi makin pelik karena pertumbuhan harga rumah juga terhambat. Indeks Harga Properti Residensial BI hanya mencatat kenaikan 0,62 persen year on year, turun dari 0,83 persen di triwulan sebelumnya. Kondisi ini terjadi di hampir seluruh tipe hunian. Tekanan harga juga diperparah oleh pelemahan Dolar AS yang berdampak langsung ke harga rumah subsidi.
Dari sisi geografis, 10 dari 18 kota yang disurvei mengalami perlambatan. Tiga kota bahkan mencatat penurunan harga secara tahunan, dengan Surabaya di posisi terdalam minus 0,27 persen year on year. Sebaliknya, Padang dan Balikpapan menjadi pengecualian dengan pertumbuhan masing-masing 1,21 persen dan 1,44 persen.
KPR Masih Jadi Pilihan Utama Konsumen
Mayoritas pengembang bergantung pada dana internal perusahaan dengan porsi mencapai 80,66 persen dari total kebutuhan pembiayaan. Sementara itu, konsumen masih dominan membeli rumah melalui skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan porsi 69,87 persen dari total transaksi pembelian rumah primer. Pemerintah sendiri tengah menyiapkan skema KPR subsidi tenor 40 tahun untuk meringankan beban cicilan masyarakat berpenghasilan rendah.
Secara triwulanan, penjualan rumah juga turun 7,69 persen. Penurunan terdalam terjadi pada rumah tipe besar yang terkontraksi 20,38 persen quarter to quarter. Angka ini mengindikasikan bahwa pasar properti residensial belum menemukan titik terang di tengah dinamika ekonomi yang masih penuh ketidakpastian.














