Saturday, 30 May 2026

Delapan Proyek Resort Sekaligus, MOJO Garap Pasar Properti Hospitality Lombok

Pantai Kuta Mandalika Lombok kawasan pengembangan resort MOJO

Jakarta — Kawasan selatan Lombok berubah drastis dalam lima tahun terakhir. Bukan sekadar sirkuit Mandalika yang jadi perhatian dunia. Gelombang investasi properti hospitality kini membanjiri deretan bukit dan pantai di sekitarnya, menandakan babak baru bagi pasar real estate di NTB.

Salah satu pemain yang paling agresif adalah MOJO Developments. Perusahaan yang berbasis di Lombok ini menggarap delapan proyek resort secara bersamaan, menjadikannya salah satu pengembang terbesar di kawasan Kuta Mandalika. Jumlah ini terbilang ambisius untuk ukuran developer lokal yang timnya tidak lebih dari 15 orang.

Delapan Proyek, Satu Ekosistem Jangka Panjang

MOJO tidak membangun proyek satu per satu secara linier. Mereka menyiapkan portofolio sekaligus. Proyek pertama bernama Rimba dijadwalkan rampung pada Mei 2026 dan dilaporkan terjual habis sebelum serah terima. Secret Villas juga sudah sold out. Sementara itu, The Swell, Sora, dan The Retreat masih dipasarkan. Dua proyek lain, Zaya dan Casa Brava, sudah memasuki fase konstruksi. Satu proyek tambahan bernama Aera tengah disiapkan untuk pengembangan berikutnya.

Delapan proyek dalam berbagai tahap ini menunjukkan satu hal: MOJO tidak sekadar menjual unit villa. Mereka sedang membangun ekosistem pariwisata yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Model Bisnis yang Menjawab Kebutuhan Investor Modern

Skema yang ditawarkan MOJO dirancang untuk investor yang ingin memiliki aset properti tanpa harus terlibat pengelolaan harian. Pembeli membayar bertahap mengikuti progres pembangunan. Setelah selesai, unit akan dikelola sebagai bagian operasional resort. Investor memperoleh pendapatan dari hasil penyewaan.

Model ini memecahkan masalah klasik investasi properti di destinasi wisata: jarak. Kebanyakan investor berdomisili di Jakarta atau kota besar lain sehingga sulit mengawasi aset secara langsung. Dengan sistem pengelolaan terpusat, MOJO menawarkan passive income yang relatif lebih terjamin.

“Kami memilih berinvestasi di Lombok karena melihat potensi pertumbuhan kawasan ini dalam jangka panjang. Dengan berada dekat dengan proyek, kami juga bisa memastikan setiap proses berjalan sesuai standar yang kami tetapkan,” ujar Gorka, salah satu pendiri MOJO.

Mandalika Jadi Magnet Investasi Properti

Seperti proyek KAI yang membangun 4.642 unit apartemen dekat Stasiun Manggarai, pembangunan Mandalika Special Economic Zone menjadi katalis utama yang menarik minat investor, sejalan dengan tren properti prospektif 2026 yang diprediksi Knight Frank. Sirkuit Pertamina Mandalika International Circuit sudah menarik perhatian dunia otomotif. Infstruktur pendukung seperti jalan akses, bandara, dan zona ekonomi khusus terus diperkuat.

Lokasi proyek MOJO sendiri tersebar di sejumlah titik strategis, termasuk kawasan sekitar sirkuit dan perbukitan Kuta. Penyebaran lokasi ini menjadi bagian strategi untuk menjangkau segmen wisatawan dan investor yang lebih luas.

Menurut Jorge, pendiri MOJO lainnya, sejak awal perusahaan memang tidak dirancang untuk mengembangkan satu proyek semata. “Kami ingin membangun portofolio yang berkelanjutan di kawasan ini. Bukan hanya satu proyek, tetapi ekosistem yang bisa berkembang dalam jangka panjang,” katanya.

Tenaga Kerja Lokal Jadi Prioritas

Dari sisi konstruksi, MOJO melibatkan kontraktor serta tenaga kerja lokal. Tim teknik berbasis Lombok menangani pembangunan proyek secara langsung dengan pengawasan manajemen perusahaan. Selain tenaga kerja lokal, sebagian anggota tim juga berasal dari Jakarta dan Yogyakarta.

Pendekatan ini tidak hanya menekan biaya operasional, tetapi juga membangun kapasitas lokal di kawasan yang sedang berkembang pesat. Dampak ekonominya meluas dari sekadar bangunan fisik hingga menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat NTB.

Prospek Pasar Properti Hospitality di Lombok

Meningkatnya perhatian investor terhadap Lombok sebagai kawasan pertumbuhan baru mendorong perubahan pola pengembangan properti di sektor hospitality. Pengembang kini tidak hanya fokus membangun proyek, tetapi juga mengintegrasikan sistem pengelolaan untuk menciptakan model bisnis jangka panjang.

Penyelesaian proyek Rimba pada 2026 akan menjadi proyek pertama yang mulai beroperasi penuh di bawah pengelolaan MOJO. Keberhasilannya akan menjadi benchmark penting bagi pengembang lain yang ingin masuk ke kawasan Mandalika.

Bagi investor yang mencari diversifikasi portofolio di luar pasar properti konvensional, kawasan selatan Lombok menawarkan peluang menarik. Tantangannya tetap ada — dari aspek regulasi seperti perpanjangan bebas PPN beli rumah hingga 2027 hingga fluktuasi nilai tukar — namun momentum pertumbuhan di kawasan ini sulit diabaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *