Jakarta — Pasar properti Indonesia memasuki babak baru di tahun 2026 dengan prediksi pertumbuhan moderat, namun di balik angka-angka tersebut tersimpan tren-tren menarik yang mungkin tak terduga. Salah satunya? Lapangan padel yang justru meledak sebagai aset properti komersial paling prospektif.
Hasil riset Knight Frank Indonesia mengungkap bahwa 61 persen pemangku kepentingan properti memproyeksikan laju investasi di sektor ini akan tumbuh secara moderat sepanjang 2026. Angka itu bukan berarti melesu, melainkan menandakan pasar yang lebih selektif dan strategis dalam mengalokasikan modal. Prediksi ini sejalan dengan proyeksi properti RI 2026 yang menyebut FLPP sebagai penyelamat, namun material dan regulasi masih menjadi ancaman.
Lapangan Padel Jadi Bintang Baru Properti Komersial
Knight Frank menyebut lapangan padel sebagai salah satu tren properti yang berkembang pesat di 2026. Olahraga asal Spanyol ini bukan sekadar hobi anak muda kota besar, melainkan telah bertransformasi menjadi instrumen investasi properti yang menjanjikan return signifikan bagi pengembang dan pemilik lahan komersial.
“Beberapa sektor memiliki daya ungkit positif terhadap pertumbuhan properti tahun depan, diantaranya lifestyle, e-commerce, energi terbarukan, pariwisata, serta food and beverages (FnB),” ujar Senior Research Advisor Knight Frank Syarifah Syaukat.
Green Office dan TOD Jadi Pendorong Utama
Selain padel, tren pengembangan pusat data hijau dan mixed use di sekitar pengembangan berorientasi transit (TOD) turut mencuri perhatian. Peningkatan penetrasi green-office buildings terjadi di tengah pasokan gedung perkantoran yang berlimpah, sementara transformasi ritel menjadi katalis bagi traffic konsumen. Konsep hijau ini sejalan dengan langkah PLN yang meluncurkan smart building agar gedung dan rumah bisa memproduksi energi sendiri.
Country Head Knight Frank Indonesia Willson Kalip menegaskan bahwa resiliensi pasar properti nasional tercermin dari ekspansi sektor pergudangan yang mengukuhkan posisinya sebagai growth engine dalam lansekap properti saat ini.
Rumah Tapak Stabil, Perkantoran Stagnan
Tren perkembangan rumah tapak, ritel, hotel dan apartemen sewa cenderung masih stabil di 2026. Sebaliknya, segmen perkantoran, villa resort, dan apartemen strata diprediksi stagnan sepanjang tahun. Perbedaan nasib ini menunjukkan bahwa preferensi pasar bergeser ke properti yang lebih fleksibel dan berorientasi aktivitas. Fenomena ini mengkonfirmasi data IHPR yang menunjukkan perlambatan harga hunian di awal 2026 imbas material dan suku bunga KPR.
Jabodetabek, Bali, Surabaya, Semarang dan Makassar tercatat sebagai lima kota dengan prospek pertumbuhan properti positif di 2026. Lima kota ini menjadi magnet investasi karena kombinasi infrauktur yang matang dan permintaan riil yang terus meningkat.
Tantangan yang Masih Mengintai
Pelemahan daya beli, harga tanah yang tinggi, serta inflasi masih menjadi tantangan utama pertumbuhan properti tahun ini. Namun, Head of Research Knight Frank Asia Pacific Christine Li menegaskan bahwa Indonesia tetap masuk dalam radar investasi global.
“Indonesia menjadi salah satu negara yang masuk dalam radar investasi, dengan peran sebagai basis kedua atau ketiga bagi para investor,” kata Christine Li.
Pasar properti 2026 bukan tentang siapa yang paling cepat membangun, melainkan siapa yang paling cerdas membaca tren. Dari padel hingga green office, peluang tersembunyi menunggu mereka yang berani berpikir di luar kotak konvensional.











