Sunday, 31 May 2026

Industri Keramik Nasional Bangkit, Utilisasi Naik ke 75 Persen di 2026

Industri keramik nasional Indonesia memulihkan utilisasi produksi tahun 2026

Jakarta — Industri keramik nasional mengalami kebangkitan signifikan setelah sempat terpuruk di tahun 2024. Utilisasi produksi yang sebelumnya hanya 66 persen kini merangkak naik hingga 72 persen sepanjang Januari hingga Mei 2026, menandakan pemulihan nyata di sektor bahan bangunan penunjang properti.

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menargetkan tingkat utilisasi industri keramik nasional dapat mencapai kisaran 73 hingga 75 persen pada akhir 2026. Capaian ini merevisi proyeksi awal yang sempat dipatok di angka 80 persen, namun tetap menunjukkan arah pemulihan yang positif.

Sempat Terpuruk, Kini Merangkak Naik

Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto membeberkan kondisi terkini industri keramik nasional di Jakarta, Senin (25/5/2026). Industri ini sempat mencapai titik tertinggi pada 2021 dengan utilisasi sekitar 75 persen, namun kemudian mengalami penurunan tajam hingga mencapai level terendah di kisaran 66 persen pada 2024.

“Kita masih bisa mengejar target, kami sudah merevisi. Target awal 80 persen tingkat utilisasi. Namun yang terbaru ini kami merevisi target utilisasi 2026 73 sampai 75 persen,” kata Edy.

Ekspansi Kapasitas Produksi Gencar Dilakukan

Dari sisi kapasitas, industri keramik nasional terus melakukan ekspansi besar-besaran. Sepanjang 2020 hingga 2024, industri menambah kapasitas sekitar 73 juta meter persegi. Rencananya, periode 2025 hingga 2029 akan ditambah lagi ekspansi sekitar 90 juta meter persegi.

Dengan penambahan kapasitas tersebut, pelaku industri meyakini kebutuhan pasar dalam negeri dapat dipenuhi tanpa harus bergantung pada produk impor. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong substitusi impor di sektor bahan bangunan.

Kebangkitan industri keramik ini menjadi sinyal positif bagi pengembang yang selama ini menghadapi dilema biaya bangunan melonjak dan harga jual terancam naik.

Pameran Jadi Katalisator Pertumbuhan

“Keramika 2026 adalah etalase kebanggaan industri keramik nasional. Kami ingin membuktikan bahwa kualitas, desain dan teknologi pabrikan lokal siap bersaing di pasar global sekaligus memenuhi kebutuhan proyek-proyek premium di Indonesia,” ujar Edy.

Pelaku usaha juga memanfaatkan pameran Megabuild, Keramika, dan Megaproperty 2026 yang akan digelar pada 4-7 Juni mendatang sebagai sarana memperluas pasar dan meningkatkan transaksi bisnis. Pameran ini mengintegrasikan sektor bahan bangunan, keramik, dan properti dalam satu platform.

Presiden Direktur Panorama Media Royanto Handaya menegaskan pameran tersebut bukan sekadar tempat memamerkan produk. “Kami merancang edisi 2026 ini bukan sekadar pameran, melainkan katalisator pertumbuhan ekonomi,” ucapnya.

Pemulihan industri keramik ini menjadi penyejuk di tengah tekanan harga material bangunan yang sempat meroket akibat pelemahan rupiah. Dengan utilisasi yang terus meningkat, diharapkan pasokan keramik lokal melimpah dan mampu menekan biaya konstruksi hunian.

Ketersediaan bahan bangunan berkualitas lokal dengan harga kompetitif akan mendukung percepatan pembangunan hunian, termasuk program rumah subsidi yang sempat terhimpit akibat melonjaknya biaya konstruksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *